JawaPos.com - Ada sebagian orang yang, ketika merasa tubuhnya kurang sehat, justru memilih untuk tidak tahu.
Mereka enggan memeriksakan diri ke dokter, menunda tes kesehatan, atau bahkan menolak berbicara tentang kemungkinan penyakit yang mereka alami.
Bagi sebagian orang lain, perilaku ini terlihat aneh — bukankah mengetahui penyakit lebih baik agar bisa segera diobati?
Namun, psikologi melihat fenomena ini dari sisi yang lebih dalam.
Menghindari pemeriksaan medis bukan hanya masalah rasa takut terhadap jarum suntik atau hasil diagnosis, melainkan sering kali berkaitan dengan cara seseorang menghadapi ketidakpastian, rasa takut, dan kontrol terhadap hidupnya sendiri.
Dilansir dari Geediting pada Kamis (16/10), terdapat tujuh ciri kepribadian yang biasanya dimiliki oleh orang yang lebih memilih tidak tahu penyakit yang diderita daripada pergi ke dokter — menurut psikologi.
Dalam psikologi, ini disebut sebagai avoidance coping, yaitu strategi untuk menenangkan diri dengan menjauh dari sumber stres.
Misalnya, seseorang mungkin berpikir: “Lebih baik tidak tahu daripada stres memikirkan hasilnya.”
Mereka merasa bahwa ketidaktahuan memberikan rasa aman semu — seolah dengan tidak memeriksakan diri, penyakit itu tidak benar-benar ada.
2. Memiliki Kecenderungan Kontrol Eksternal (External Locus of Control)
Orang dengan external locus of control percaya bahwa hidup mereka ditentukan oleh faktor luar seperti nasib, keberuntungan, atau takdir — bukan oleh usaha pribadi.
Karena itu, mereka sering berpikir: “Kalau memang waktunya sakit, ya sakit saja.”
Pandangan seperti ini membuat mereka cenderung pasrah dan tidak termotivasi untuk mengambil tindakan proaktif, termasuk pergi ke dokter.
Dalam pandangan psikologis, ini adalah bentuk penyerahan kendali terhadap hal-hal yang sebenarnya bisa diusahakan.
Mengetahui ada penyakit berarti harus menerima bahwa tubuh memiliki batas — dan bagi sebagian individu, pengakuan itu terasa mengancam ego mereka.
Psikologi menyebut ini sebagai denial mechanism atau mekanisme penyangkalan, di mana seseorang memilih menyangkal realitas untuk menjaga keseimbangan emosional dan rasa percaya dirinya.
4. Perfeksionis yang Tidak Mau Terlihat “Lemah”
Menariknya, sebagian orang yang menolak pergi ke dokter justru memiliki kepribadian perfeksionis.
Mereka terbiasa tampil kuat, efisien, dan terorganisir.
Mengaku sakit terasa seperti kegagalan pribadi — seolah tubuh yang “tak berfungsi sempurna” menjadi aib kecil dalam citra diri mereka.
Karena itu, mereka menunda pemeriksaan agar tetap bisa mempertahankan ilusi bahwa semuanya baik-baik saja.
Secara psikologis, ini termasuk dalam self-deceptive enhancement, yakni kebiasaan membohongi diri sendiri demi menjaga citra positif.
5. Rendah dalam Kesadaran Diri (Low Self-Awareness)
Seseorang dengan kesadaran diri rendah cenderung tidak peka terhadap sinyal tubuh dan emosi.
Mereka sulit membedakan antara “lelah biasa” dan “tanda bahaya”.
Kondisi ini sering muncul pada individu yang terlalu sibuk, menekan stres, atau terbiasa mengabaikan kebutuhan tubuh.
Mereka tidak menolak pergi ke dokter karena takut, melainkan karena benar-benar tidak menyadari bahwa ada yang perlu diperiksa.
Dalam jangka panjang, pola ini bisa berbahaya karena menunda deteksi dini penyakit serius.
Misalnya, pernah melihat anggota keluarga sakit parah setelah diagnosis dokter, atau mengalami perlakuan tidak menyenangkan di rumah sakit.
Trauma seperti ini dapat menimbulkan medical anxiety — rasa takut ekstrem terhadap proses medis, bahkan hanya mendengar kata “pemeriksaan” saja bisa memicu stres.
Mereka menghindari dokter bukan karena tak peduli, tapi karena tubuh dan pikiran mereka secara naluriah ingin melindungi diri dari pengalaman yang menyakitkan.
7. Cenderung Mengidealkan Hidup “Natural” dan Menolak Intervensi Medis
Sebagian orang memiliki pandangan filosofis bahwa tubuh manusia bisa menyembuhkan dirinya sendiri tanpa bantuan medis.
Dalam psikologi, ini bisa terkait dengan belief-driven behavior, di mana keyakinan pribadi lebih kuat daripada bukti objektif.
Mereka cenderung mempercayai pengobatan alami, energi positif, atau doa sebagai bentuk perawatan yang lebih “selaras” dengan alam.
Meskipun keyakinan ini tidak selalu salah, ekstremnya dapat membuat seseorang menolak intervensi medis bahkan ketika tubuh membutuhkan bantuan nyata.
Kesimpulan: Antara Ketakutan, Keyakinan, dan Kontrol Diri
Menghindari dokter bukan sekadar soal malas atau berani — ini tentang cara seseorang menghadapi ketidakpastian dalam hidup.
Orang yang memilih tidak tahu penyakit yang diderita sering kali menunjukkan perpaduan antara rasa takut, keyakinan yang kuat, dan kebutuhan untuk mempertahankan kontrol atas diri sendiri.
Psikologi mengajarkan bahwa memahami perilaku ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengenali sisi rapuh manusia yang takut pada kenyataan.
Namun, pada akhirnya, keberanian sejati bukanlah menolak tahu — melainkan berani menghadapi kebenaran agar bisa mengambil langkah penyembuhan yang lebih bijak.
Karena dalam dunia nyata, pengetahuan bukan hanya kekuatan — ia adalah bentuk kasih sayang pada diri sendiri.
***