Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 12 Oktober 2025 | 13.26 WIB

Trauma Ternyata Bisa Mengubah Struktur Otak Anda: Begini Cara Otak Bertahan dan Pulih Menurut Ahli Psikologi

Ilustrasi seseorang yang berjuang memulihkan diri dari dampak trauma yang memengaruhi cara kerja otaknya.

JawaPos.com – Trauma bukan sekadar luka batin yang sulit dilupakan. Pengalaman traumatis meninggalkan jejak nyata pada otak manusia, memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan emosi, hingga merespons dunia di sekitarnya.

Di balik reaksi seperti mudah panik, sulit fokus, atau merasa terputus dari kenyataan, tersimpan sistem pertahanan otak yang terus bekerja bahkan setelah bahaya berlalu.

Para ahli menyebut, ketika seseorang mengalami trauma, otaknya beradaptasi secara ekstrem untuk bertahan hidup. Namun, mekanisme yang seharusnya bersifat sementara justru bisa tersangkut dalam ‘mode siaga permanen.’ 

Hal inilah yang membuat seseorang merasa selalu waspada, sulit percaya, atau kerap menghindari situasi tertentu tanpa sadar.

Trauma tidak hanya memengaruhi emosi, tetapi juga mengubah struktur otak. Ketidakseimbangan fungsi amigdala, prefrontal cortex, dan hippocampus membuat seseorang mudah cemas dan sulit mengendalikan diri.

Dilansir dari YouTube Psych2Go, Minggu (12/10), berikut penjelasan soal bagaimana trauma mengubah cara kerja otak, sekaligus menawarkan langkah-langkah ilmiah untuk memulihkannya.

1. Amigdala yang Terus Aktif, Otak Siaga Tanpa Henti

Amigdala berfungsi sebagai sistem alarm yang mendeteksi bahaya. Dalam kondisi normal, bagian otak ini hanya aktif ketika tubuh menghadapi ancaman.

Namun pada individu yang mengalami trauma, bagian ini bekerja berlebihan bahkan terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya aman. 

Akibatnya, tubuh terus berada dalam kondisi siaga, menimbulkan stres kronis, kecemasan, dan rasa takut berlebih yang sulit dikendalikan.

2. Prefrontal Cortex Melemah, Sulit Mengendalikan Emosi

Prefrontal cortex—bagian otak yang berperan dalam berpikir rasional dan pengendalian diri—cenderung melemah akibat trauma. 

Kondisi ini membuat seseorang sulit membuat keputusan logis, mengatur emosi, dan tetap tenang dalam situasi tertekan. 

Dalam kondisi ekstrem, bagian ini bahkan dapat ‘mati sesaat,’ membuat pikiran terasa kacau atau kosong ketika panik melanda.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore