Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 September 2025 | 19.47 WIB

Strategi Hemat Beli Pakaian: Dari Psikologi Belanja hingga Thrifting agar Tetap Tampil Stylish

Ilustrasi Seseorang Melakukan Kegiatan Thrifting Pakaian. (Freepik) - Image

Ilustrasi Seseorang Melakukan Kegiatan Thrifting Pakaian. (Freepik)

JawaPos.com – Kamu pernah nggak tiba‐tiba merasa dompet tipis tapi tetap aja terpancing buka aplikasi belanja? Atau tergoda promo besar, diskon menggiurkan, padahal barang baru saja dibeli minggu lalu?

Godaan belanja memang sering datang tiba-tiba, apalagi kalau lagi scroll e-commerce atau media sosial. Rasanya seperti ada yang kurang kalau nggak klik tombol “beli”.

Belanja pakaian sering kali menjadi kebutuhan sekaligus hiburan. Namun, tanpa strategi yang tepat, kegiatan ini dapat menimbulkan pemborosan dan berdampak negatif pada keuangan pribadi.

Sejumlah penelitian dan artikel internasional menunjukkan bahwa mengelola pola belanja tidak hanya berkaitan dengan uang, tetapi juga dengan psikologi dan gaya hidup berkelanjutan.

Menurut St. Mary’s Bank, perilaku belanja kerap dipengaruhi oleh emosi. Faktor seperti stres, kebosanan, atau kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan sosial dapat memicu keputusan membeli yang impulsif.

Hal ini terjadi karena proses belanja memicu pelepasan dopamin di otak, sehingga menimbulkan rasa senang sesaat. Namun, perasaan ini sering kali diikuti dengan penyesalan setelah menyadari pengeluaran berlebihan.

Strategi pengendalian emosi dalam belanja sangat penting. Salah satunya adalah memberikan jeda waktu sebelum membeli barang.

Artikel Vogue menekankan pentingnya “delay gratification”, ketika menemukan pakaian menarik atau diskon besar, sebaiknya menunggu satu hingga dua hari sebelum memutuskan membeli.

Dalam banyak kasus, keinginan tersebut mereda setelah dipikir ulang, terutama jika barang serupa sudah dimiliki. Selain itu, Vogue juga menyarankan otomatisasi tabungan, yaitu menyisihkan sebagian pendapatan secara langsung ke rekening tabungan sebelum dialokasikan untuk belanja, sehingga anggaran belanja menjadi lebih terkendali.

Selain mengelola psikologi belanja, strategi penghematan juga dapat dilakukan melalui thrifting atau membeli pakaian preloved. Panduan dari University of Colorado Boulder menekankan bahwa thrifting tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga berdampak positif terhadap lingkungan.

Produksi pakaian baru membutuhkan sumber daya besar, misalnya ribuan galon air hanya untuk satu pasang jeans. Dengan memilih pakaian secondhand yang masih layak pakai, konsumen berkontribusi memperpanjang umur pakaian sekaligus mengurangi limbah tekstil.

Namun, thrifting juga memerlukan kehati-hatian. Aspek yang perlu diperhatikan antara lain kondisi kain, kualitas jahitan, serta kemungkinan biaya tambahan untuk perawatan atau perbaikan. Dengan memilih secara selektif, konsumen dapat menghindari risiko membeli pakaian murah yang justru tidak tahan lama.

Fenomena thrifting juga semakin populer di Indonesia. Menurut laporan Textile Focus, pasar pakaian bekas di Indonesia berkembang pesat seiring pertumbuhan populasi dan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap harga yang lebih terjangkau serta nilai unik dari pakaian secondhand.

Pakaian bekas kini bukan hanya dianggap sebagai alternatif hemat, tetapi juga bagian dari tren gaya hidup yang berkelanjutan dan autentik. Namun demikian, penting untuk memperhatikan regulasi terkait impor pakaian bekas agar tidak terjerat pada produk ilegal.

Secara keseluruhan, terdapat beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk menghemat uang saat berbelanja pakaian:

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore