Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 18 September 2025 | 21.40 WIB

Jika Dua Orang Sering Melakukan 3 Hal Ini, Besar Kemungkinan Mereka Terjebak dalam Hubungan yang Sangat Disfungsional

Cinta tidak boleh dijadikan alasan untuk menerima perlakuan buruk.  Foto: Freepik - Image

Cinta tidak boleh dijadikan alasan untuk menerima perlakuan buruk. Foto: Freepik

JawaPos.com-Cinta sering kali membuat orang buta. Kita bisa begitu terpikat oleh pesona pasangan hingga mengabaikan tanda-tanda bahaya yang jelas terlihat. Sebagian orang bahkan rela menormalisasi perlakuan buruk hanya demi mempertahankan perasaan cinta, kenyamanan emosional, atau sekadar menghindari kesepian.

Hubungan yang disfungsional tidak selalu diwarnai pertengkaran hebat. Justru, sering kali ditandai oleh pola-pola kecil yang berulang, yang perlahan-lahan mengikis harga diri, kebahagiaan, dan stabilitas emosional salah satu atau kedua pasangan.

Menurut para ahli psikologi, ada tiga indikator besar yang hampir selalu muncul pada pasangan yang disfungsional. 

Dilansir dari laman Your Tango, jika dua orang sering melakukan hal-hal berikut, maka hubungan itu kemungkinan besar jauh dari kata sehat.

1. Salah Satu atau Keduanya Memiliki Riwayat Kriminal atau Perilaku Antisosial

Kasus nyata yang sering ditemui dalam layanan konseling hubungan adalah pasangan yang salah satunya memiliki catatan kriminal. Pada awalnya, hal ini mungkin tidak terlihat sebagai masalah besar. Toh, banyak orang percaya setiap orang bisa berubah.

Namun, realitasnya tidak sesederhana itu.

Mengapa Riwayat Kriminal Bisa Menjadi Pertanda Hubungan Disfungsional?

  • Pola perilaku berulang. Seseorang yang memiliki sejarah kejahatan atau perilaku antisosial sering kali mengulang pola yang sama.

  • Kurangnya tanggung jawab. Orang dengan catatan kriminal biasanya kesulitan bertanggung jawab atas tindakannya, yang bisa merembet ke dalam hubungan.

  • Risiko bagi pasangan. Pasangan bisa ikut terseret masalah hukum atau finansial akibat perilaku tersebut.

  • Studi Ilmiah Mendukung Hal Ini

    Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan riwayat kriminalitas cenderung berpasangan dengan orang yang memiliki kerentanan emosional atau trauma. Kombinasi ini menciptakan dinamika hubungan yang tidak seimbang, di mana satu pihak cenderung memanfaatkan pihak lainnya.

    Contoh Nyata

    Seorang wanita bisa saja jatuh cinta pada pria dengan masa lalu kriminal, membela tindakannya, bahkan meyakinkan diri bahwa semua itu akibat "keadaan" atau "diskriminasi." Namun kenyataannya, pola lama sering muncul kembali, membuat hubungan semakin penuh drama, manipulasi, bahkan kekerasan.

    Intinya: jika catatan kriminal tidak diikuti dengan perubahan nyata, besar kemungkinan hubungan akan tetap disfungsional.

    2. Salah Satu Pihak Menguasai dan Mendominasi yang Lain

    Hubungan yang sehat dibangun atas dasar kesetaraan. Tidak ada yang lebih berkuasa, dan tidak ada yang merasa lebih rendah. Namun, dalam hubungan disfungsional, sering kali salah satu pasangan memegang kendali penuh.

    Bagaimana Bentuk Kekuasaan Itu Tercermin?

    • Emosional. Pasangan mendikte bagaimana Anda harus merasa atau bereaksi.

  • Finansial. Salah satu pihak mengontrol semua uang sehingga pihak lain kehilangan kemandirian.

  • Editor: Setyo Adi Nugroho
    Tags
    Jawa Pos
    JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
    Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
    Download Aplikasi JawaPos.com
    Download PlaystoreDownload Appstore