
Cinta tidak boleh dijadikan alasan untuk menerima perlakuan buruk. Foto: Freepik
JawaPos.com-Cinta sering kali membuat orang buta. Kita bisa begitu terpikat oleh pesona pasangan hingga mengabaikan tanda-tanda bahaya yang jelas terlihat. Sebagian orang bahkan rela menormalisasi perlakuan buruk hanya demi mempertahankan perasaan cinta, kenyamanan emosional, atau sekadar menghindari kesepian.
Hubungan yang disfungsional tidak selalu diwarnai pertengkaran hebat. Justru, sering kali ditandai oleh pola-pola kecil yang berulang, yang perlahan-lahan mengikis harga diri, kebahagiaan, dan stabilitas emosional salah satu atau kedua pasangan.
Menurut para ahli psikologi, ada tiga indikator besar yang hampir selalu muncul pada pasangan yang disfungsional.
Dilansir dari laman Your Tango, jika dua orang sering melakukan hal-hal berikut, maka hubungan itu kemungkinan besar jauh dari kata sehat.
Kasus nyata yang sering ditemui dalam layanan konseling hubungan adalah pasangan yang salah satunya memiliki catatan kriminal. Pada awalnya, hal ini mungkin tidak terlihat sebagai masalah besar. Toh, banyak orang percaya setiap orang bisa berubah.
Namun, realitasnya tidak sesederhana itu.
Kurangnya tanggung jawab. Orang dengan catatan kriminal biasanya kesulitan bertanggung jawab atas tindakannya, yang bisa merembet ke dalam hubungan.
Risiko bagi pasangan. Pasangan bisa ikut terseret masalah hukum atau finansial akibat perilaku tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan riwayat kriminalitas cenderung berpasangan dengan orang yang memiliki kerentanan emosional atau trauma. Kombinasi ini menciptakan dinamika hubungan yang tidak seimbang, di mana satu pihak cenderung memanfaatkan pihak lainnya.
Seorang wanita bisa saja jatuh cinta pada pria dengan masa lalu kriminal, membela tindakannya, bahkan meyakinkan diri bahwa semua itu akibat "keadaan" atau "diskriminasi." Namun kenyataannya, pola lama sering muncul kembali, membuat hubungan semakin penuh drama, manipulasi, bahkan kekerasan.
Intinya: jika catatan kriminal tidak diikuti dengan perubahan nyata, besar kemungkinan hubungan akan tetap disfungsional.
Hubungan yang sehat dibangun atas dasar kesetaraan. Tidak ada yang lebih berkuasa, dan tidak ada yang merasa lebih rendah. Namun, dalam hubungan disfungsional, sering kali salah satu pasangan memegang kendali penuh.
Emosional. Pasangan mendikte bagaimana Anda harus merasa atau bereaksi.
Finansial. Salah satu pihak mengontrol semua uang sehingga pihak lain kehilangan kemandirian.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
