Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 12 September 2025 | 15.44 WIB

Alasan Penolakan Sakitnya Terasa Nyata: Cara Otak Memproses Kecewa dan Langkah Tepat Agar Mental Tetap Kuat

ilustrasi pria yang sedang menolak sesuatu

JawaPos.com – Hampir setiap orang pernah merasakan pahitnya ditolak. Entah dalam hubungan percintaan, pekerjaan, hingga lingkup sosial, penolakan kerap menimbulkan luka yang sulit dilupakan. Namun, tahukah Anda bahwa rasa sakit akibat penolakan bukan hanya emosional, melainkan juga melibatkan mekanisme biologis di otak?

Konten edukasi dari akun TikTok @dearaya725 menjelaskan bahwa otak manusia merespons penolakan dengan cara yang mirip ketika tubuh merasakan sakit fisik. Hal ini karena bagian otak yang disebut anterior cingulate cortex aktif saat seseorang ditolak. Inilah alasan mengapa ditolak bisa membuat dada terasa sesak, bahkan hingga menurunkan motivasi.

Hal senada disampaikan motivator Merry Riana dalam kontennya di TikTok. Menurutnya, penolakan sering dianggap kegagalan besar sehingga banyak orang terjebak dalam rasa tidak berharga. Padahal, jika dilihat dari sisi psikologis, penolakan merupakan bentuk feedback yang bisa dijadikan pijakan untuk berkembang. Dengan kata lain, reaksi otak terhadap penolakan seharusnya tidak diartikan sebagai “akhir dari segalanya.”

Channel Greatmind melalui tayangan di YouTube juga mengulas bahwa pengalaman ditolak memicu pelepasan hormon stres, seperti kortisol. Jika terjadi berulang, kondisi ini bisa berdampak pada kesehatan mental. Perasaan cemas, minder, hingga depresi rentan muncul bila penolakan tidak diolah dengan cara yang sehat.

Psikolog dan konten kreator @rainertupamahu menambahkan bahwa penolakan sering kali diikuti dengan pola pikir overthinking. Otak cenderung memutar ulang momen penolakan dan mencari kesalahan pada diri sendiri. Pola ini disebut rumination yang dalam jangka panjang membuat seseorang semakin sulit bangkit.

Dampak psikologis dari penolakan bisa muncul dalam berbagai bentuk. Pertama, harga diri seseorang menurun karena merasa tidak cukup baik. Kedua, hubungan sosial terganggu karena rasa takut ditolak membuat individu enggan membuka diri. Ketiga, muncul gangguan mental seperti kecemasan sosial yang membuat interaksi menjadi penuh tekanan.

Meski demikian, penolakan bukanlah akhir dari perjalanan. Ada beberapa cara sehat untuk menghadapinya. Pertama, menyadari bahwa rasa sakit akibat penolakan adalah reaksi alami otak. Dengan pemahaman ini, seseorang bisa lebih menerima emosinya tanpa menyalahkan diri berlebihan. Kedua, penting untuk mengubah cara pandang. Penolakan dapat dilihat sebagai redirection, bukan kegagalan. Ketika satu pintu tertutup, ada peluang lain yang bisa terbuka.

Melatih self-compassion menjadi salah satu langkah penting dalam menghadapi penolakan. Memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan kecewa, tanpa harus terjatuh terlalu dalam, dapat mempercepat proses pemulihan emosional. Dukungan dari orang-orang terdekat juga memegang peranan krusial. Kehadiran teman maupun keluarga yang suportif mampu mengurangi rasa sakit yang muncul akibat penolakan.

Lebih jauh, para pakar menyarankan untuk melibatkan diri dalam aktivitas yang menstimulasi otak positif. Misalnya dengan berolahraga, menulis jurnal, atau mencoba hobi baru. Kegiatan semacam ini membantu otak memproduksi endorfin, yaitu hormon yang berperan menyeimbangkan perasaan negatif setelah seseorang mengalami penolakan.

Penting juga untuk menyadari bahwa penolakan merupakan bagian tak terhindarkan dari kehidupan. Hampir semua orang pernah mengalaminya, baik dalam hubungan personal maupun perjalanan karier. Justru pengalaman inilah yang mampu melatih ketahanan mental. Dengan belajar menerima penolakan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri, seseorang dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang, kuat, serta siap menghadapi tantangan baru dengan perspektif yang lebih positif.

Fenomena ini menegaskan bahwa otak memiliki peran besar dalam membentuk cara kita menanggapi pengalaman emosional. Penolakan memang tidak bisa dihindari, tetapi cara meresponsnya akan sangat menentukan dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental. Dengan kesadaran diri, latihan pengelolaan emosi, serta dukungan sosial yang tepat, setiap orang memiliki peluang mengubah rasa sakit akibat penolakan menjadi sumber kekuatan baru.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore