Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 9 September 2025 | 04.23 WIB

Bahaya Sleep Call bagi Kesehatan Mental dan Tidur, Waspadai Ketergantungan dan Tips untuk Mengatasinya

Ilustrasi seorang gadis melakukan sleep call dengan pasangannya. (Freepik) - Image

Ilustrasi seorang gadis melakukan sleep call dengan pasangannya. (Freepik)

 JawaPos.com - Fenomena sleep call —teleponan lewat suara atau video hingga tertidur— belakangan jadi tren di kalangan remaja dan dewasa muda.

Banyak yang menganggapnya romantis dan menenangkan. Namun di balik kebiasaan ini, ada risiko yang tidak bisa dianggap sepele karena dapat memengaruhi kesehatan mental sekaligus kualitas tidur.

Mengapa Sleep Call Terasa Menenangkan?

Menurut dr. Brihastami Sawitri, Sp.KJ, Psikiater RS Universitas Airlangga, fenomena ini bisa dijelaskan lewat teori psikososial Erik Erikson.

Pada fase remaja dan dewasa muda, individu sedang mencari identitas diri sekaligus kedekatan emosional. Maka, tidak heran bila sleep call terasa seperti kebutuhan.

Rasa aman itu muncul karena manusia memiliki kebutuhan dasar akan keterhubungan (connectednesss). Suara orang terdekat memberi rasa nyaman, mirip anak yang lebih tenang ketika ditemani orang tua menjelang tidur.

Interaksi ini memicu pelepasan hormon oksitosin, dopamin, dan endorfin yang membuat tubuh lebih rileks, sementara hormon stres kortisol menurun.

Coping Mechanism di Era Digital

Sleep call juga bisa dilihat sebagai bentuk coping mechanism. Sama seperti journaling, meditasi, atau olahraga, kebiasaan ini dapat membantu menurunkan stres.

“Sleep call bersama aplikasi white noise atau meditasi digital termasuk coping gaya baru. Bisa sehat, bisa juga merugikan, tergantung bagaimana penggunaannya,” jelas Brihastami.

Manfaat Sleep Call Jika Dilakukan dengan Bijak

Meski berisiko, sleep call bukan tanpa sisi positif. Percakapan ringan sebelum tidur bisa menurunkan stres, mengurangi kesepian, mempererat hubungan, bahkan membantu relaksasi.

Bagi pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh alias long distance relationship (LDR), sleep call bisa menjadi ritual sederhana untuk menjaga ikatan emosional.

Namun manfaat ini hanya terasa bila sleep call dilakukan secukupnya, tidak mengorbankan jam tidur, dan tidak dijadikan kebiasaan setiap malam.

Bahaya Ketergantungan Sleep Call

Masalah muncul ketika sleep call dilakukan terus-menerus. Otak bisa terbiasa hanya bisa tidur setelah mendengar suara pasangan.

“Mirip anak kecil yang tidak bisa tidur tanpa boneka atau lampu tidur. Kalau tidak ada sleep call, muncullah gelisah dan rasa ditinggalkan,” kata Brihastami.

Kondisi ini dapat memicu ketergantungan emosional, bahkan mengganggu hubungan karena salah satu pihak merasa terbebani dengan kewajiban sleep call.

Dampak pada Kualitas Tidur

Dari sisi medis, sleep call juga memengaruhi kualitas tidur. Cahaya biru dari layar ponsel menekan hormon melatonin, sedangkan suara percakapan bisa menimbulkan micro-arousal yang membuat tidur jadi dangkal.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore