Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 5 September 2025 | 22.32 WIB

Waspada, Mager Bisa Jadi Pemicu Depresi! Ini 4 Dampak Psikologis Malas Gerak yang Perlu Kamu Tahu

Ilustrasi seseorang malas gerak (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Rasa malas sering kali menghambat produktivitas kita sehari-hari. Apalagi sekarang semuanya serba digital dan bisa diraih hanya dalam sekali tekan, anak muda khususnya Gen-Z semakin dimudahkan hingga pada akhirnya muncul istilah "mager" alias malas gerak.

Meski sering dianggap remeh, mager bisa berdampak serius jika menjadi kebiasaan. Bukan hanya fisik tapi juga bisa berdampak dalam kondisi psikologis kita.

Secara sederhana, mager bisa diartikan sebagai enggan melakukan aktivitas fisik. Menurut American Psychological Association (APA), kurangnya aktivitas fisik dapat memengaruhi suasana hati dan menurunkan kualitas kesehatan mental seseorang. Dengan kata lain, ketika tubuh terlalu lama tidak bergerak, otak pun ikut terdampak.

Perkembangan budaya digital membawa konsekuensi pada perilaku sehari-hari, terutama meningkatnya kebiasaan pasif seperti scrolling media sosial tanpa henti, bermain game berjam-jam, atau menonton serial secara maraton. Aktivitas ini mendorong seseorang untuk lebih banyak duduk dan mengurangi pergerakan fisik.

Akibatnya, kesadaran akan pentingnya aktivitas sederhana seperti olahraga ringan semakin terabaikan. Sayangnya, tingkat kesadaran terhadap pentingnya olahraga ringan masih rendah.

Jika diteruskan, gaya hidup pasif yang berlangsung lama dapat meningkatkan risiko gangguan mental dan menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Dampak Psikologis dari Malas Gerak

Dampak psikologis dari kebiasaan mager tidak bisa disepelekan. Sebuah artikel dari International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity menyebutkan beberapa konsekuensi negatifnya:

1. Meningkatkan Risiko Stres dan Kecemasan

Tubuh yang jarang bergerak cenderung kurang memproduksi endorfin, yaitu hormon yang berfungsi mengurangi stres dan membuat kita merasa bahagia. Akibatnya, kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko stres dan kecemasan.

2. Menurunkan Motivasi dan Produktivitas

Kebiasaan malas gerak juga bisa menurunkan motivasi dan produktivitas. Gaya hidup pasif membuat energi mental semakin menurun, sehingga seseorang lebih sulit memulai aktivitas atau menyelesaikan pekerjaan. Jika dibiarkan, hal ini dapat memengaruhi kualitas hidup sehari-hari, baik di lingkungan kerja maupun dalam kehidupan sosial.

3. Memicu Gejala Depresi

Aktivitas fisik yang rendah berkorelasi dengan meningkatnya gejala depresi, seperti rasa putus asa dan kehilangan minat terhadap hal-hal yang biasanya menyenangkan. Aktivitas fisik sederhana sekalipun sebenarnya berperan besar dalam menjaga kestabilan emosi dan suasana hati.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore