Ilustrasi seseorang malas gerak (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Rasa malas sering kali menghambat produktivitas kita sehari-hari. Apalagi sekarang semuanya serba digital dan bisa diraih hanya dalam sekali tekan, anak muda khususnya Gen-Z semakin dimudahkan hingga pada akhirnya muncul istilah "mager" alias malas gerak.
Meski sering dianggap remeh, mager bisa berdampak serius jika menjadi kebiasaan. Bukan hanya fisik tapi juga bisa berdampak dalam kondisi psikologis kita.
Secara sederhana, mager bisa diartikan sebagai enggan melakukan aktivitas fisik. Menurut American Psychological Association (APA), kurangnya aktivitas fisik dapat memengaruhi suasana hati dan menurunkan kualitas kesehatan mental seseorang. Dengan kata lain, ketika tubuh terlalu lama tidak bergerak, otak pun ikut terdampak.
Perkembangan budaya digital membawa konsekuensi pada perilaku sehari-hari, terutama meningkatnya kebiasaan pasif seperti scrolling media sosial tanpa henti, bermain game berjam-jam, atau menonton serial secara maraton. Aktivitas ini mendorong seseorang untuk lebih banyak duduk dan mengurangi pergerakan fisik.
Akibatnya, kesadaran akan pentingnya aktivitas sederhana seperti olahraga ringan semakin terabaikan. Sayangnya, tingkat kesadaran terhadap pentingnya olahraga ringan masih rendah.
Jika diteruskan, gaya hidup pasif yang berlangsung lama dapat meningkatkan risiko gangguan mental dan menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Dampak Psikologis dari Malas Gerak
Dampak psikologis dari kebiasaan mager tidak bisa disepelekan. Sebuah artikel dari International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity menyebutkan beberapa konsekuensi negatifnya:
1. Meningkatkan Risiko Stres dan Kecemasan
Tubuh yang jarang bergerak cenderung kurang memproduksi endorfin, yaitu hormon yang berfungsi mengurangi stres dan membuat kita merasa bahagia. Akibatnya, kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko stres dan kecemasan.
2. Menurunkan Motivasi dan Produktivitas
Kebiasaan malas gerak juga bisa menurunkan motivasi dan produktivitas. Gaya hidup pasif membuat energi mental semakin menurun, sehingga seseorang lebih sulit memulai aktivitas atau menyelesaikan pekerjaan. Jika dibiarkan, hal ini dapat memengaruhi kualitas hidup sehari-hari, baik di lingkungan kerja maupun dalam kehidupan sosial.
3. Memicu Gejala Depresi
Aktivitas fisik yang rendah berkorelasi dengan meningkatnya gejala depresi, seperti rasa putus asa dan kehilangan minat terhadap hal-hal yang biasanya menyenangkan. Aktivitas fisik sederhana sekalipun sebenarnya berperan besar dalam menjaga kestabilan emosi dan suasana hati.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao: Duel Tim Papan Tengah LaLiga Berpotensi Berlangsung Ketat
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022