Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 30 Juni 2025 | 19.44 WIB

9 Kebiasaan Digital yang Merusak Kesehatan Mental Menurut Psikologi, Perlu Waspada!

Kebiasaan digital yang merusak kesehatan mental menurut Psikologi. (Freepik/ pvproductions) - Image

Kebiasaan digital yang merusak kesehatan mental menurut Psikologi. (Freepik/ pvproductions)

JawaPos.com – Di era digital, penggunaan teknologi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, tanpa disadari, beberapa kebiasaan digital justru bisa berdampak buruk pada kesehatan mental.

Psikologi mengungkap bahwa pola penggunaan teknologi yang tidak terkontrol dapat memengaruhi suasana hati, produktivitas, dan hubungan sosial. Agar tetap baik dalam kesehatan mental, penting untuk mengenali kebiasaan digital yang merusak dan bagaimana cara mengatasinya.

Dilansir dari geediting.com pada Senin (30/6), diterangkan bahwa terdapat sembilan kebiasaan digital yang perlu diwaspadi karena dapat merusak kesehatan mental seseorang menurut Psikologi.

  1. Kecanduan mengecek ponsel

Seperti sebuah refleks otomatis, tangan akan meraih ponsel setiap ada jeda dalam percakapan atau saat menunggu bus atau bahkan selama jeda iklan di TV. Kebiasaan ini sudah tertanam begitu dalam sehingga sering kali tidak disadari telah menjadi perilaku kompulsif yang sulit dikendalikan.

Setiap notifikasi yang masuk - baik itu pesan teks, email, atau update media sosial - memicu pelepasan dopamin di otak yang menciptakan siklus kecanduan dimana seseorang terus-menerus menginginkan “asupan” interaksi digital berikutnya. Kondisi ini membuat otak terprogram untuk tidak puas dengan momen saat ini dan selalu mencari stimulus eksternal.

  1. Kebiasaan mengecek ponsel di pagi dan malam hari

Memulai hari dengan mengecek notifikasi ponsel membuat pikiran langsung dipenuhi berbagai informasi sebelum otak benar-benar siap memproses. Ketika malam, kebiasaan scrolling tanpa batas membuat jam tidur tertunda dan kualitas istirahat terganggu.

Paparan cahaya biru dari layar ponsel mengirim sinyal pada otak untuk tetap terjaga, mengganggu produksi hormon melatonin yang penting untuk tidur berkualitas. Kebiasaan ini menciptakan siklus tidak sehat dimana tubuh selalu dalam mode siaga dan sulit mendapatkan ketenangan yang dibutuhkan.

  1. Doomscrolling tanpa sadar waktu

Membuka ponsel untuk sekadar mengecek sesuatu bisa berubah menjadi sesi scrolling berjam-jam yang dipenuhi berita negatif dan konten menyedihkan.

Otak manusia memang dirancang untuk lebih sensitif terhadap informasi negatif, itulah mengapa doomscrolling begitu adiktif dan platform media sosial memanfaatkan hal ini untuk terus menghadirkan konten yang memicu emosi kuat.

Semakin dalam terjerumus dalam spiral informasi negatif, semakin sulit untuk berhenti meski hal ini jelas menguras energi mental. Tanpa disadari, kebiasaan ini membuat seseorang tenggelam dalam skenario terburuk dan merasa lebih tertekan dari sebelumnya.

  1. Ilusi multitasking yang melelahkan

Mengerjakan email sambil telekonferensi, mengecek media sosial saat makan, atau menonton video sambil berolahraga mungkin terasa produktif. Namun penelitian psikologi menunjukkan bahwa otak tidak benar-benar bisa fokus pada beberapa hal sekaligus, yang terjadi hanya perpindahan fokus yang sangat cepat antara satu tugas ke tugas lain.

Multitasking digital justru menurunkan produktivitas dan meningkatkan tingkat stres karena otak dipaksa bekerja lebih keras untuk terus beralih fokus. Kebiasaan ini pada akhirnya membuat seseorang merasa lelah mental tanpa hasil yang maksimal.

  1. Distraksi dari notifikasi yang tak terkendali

Setiap dering notifikasi adalah interupsi yang memaksa otak untuk beralih fokus dari apa yang sedang dikerjakan. Proses pengalihan dan pemulihan fokus ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit, bahkan bisa mencapai 23 menit untuk benar-benar kembali berkonsentrasi pada tugas awal.

Notifikasi yang terus-menerus membuat seseorang tidak pernah benar-benar menyelesaikan satu pekerjaan dengan tuntas karena perhatian selalu terpecah. Dampaknya adalah produktivitas menurun drastis meski merasa sudah bekerja sepanjang hari.

  1. Terjebak dalam perdebatan online

Dialog di media sosial bisa dengan cepat berubah menjadi perdebatan panas yang menguras energi mental dan emosional. Dorongan untuk membenarkan pendapat atau menyalahkan orang lain di dunia maya seringkali berakhir dengan frustrasi karena jarang ada yang mau mengakui kesalahan atau mengubah pandangan mereka.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore