Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 30 Juni 2025 | 06.16 WIB

7 Kebiasaan Emosional Masa Kecil Penyebab Orang Memilih Diam saat Marah

Ilustrasi seorang anak kecil yang duduk sendirian dengan ekspresi sedih, mencerminkan awal mula kebiasaan menekan emosi. (Freepik) - Image

Ilustrasi seorang anak kecil yang duduk sendirian dengan ekspresi sedih, mencerminkan awal mula kebiasaan menekan emosi. (Freepik)

JawaPos.com - Banyak orang dewasa cenderung memilih diam ketika merasa kecewa atau marah, alih-alih mengungkapkan perasaan mereka. Perilaku ini sering kali membingungkan bagi orang di sekitarnya. Kebiasaan ini sebetulnya bisa berakar kuat dari pengalaman emosional di masa kecil.

Melansir dari Geediting.com Minggu (29/6), keheningan ini sering merupakan hasil dari beberapa kebiasaan emosional yang terbentuk saat usia dini. Mengenali pola ini adalah langkah penting untuk memahami cara kita bereaksi terhadap emosi. Mari kita telaah tujuh kebiasaan tersebut.

1. Diajari Bahwa Perasaan Itu Kelemahan

Anak-anak yang diajarkan menekan emosi, seperti dilarang menangis, cenderung menginternalisasi pelajaran ini. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa mengungkapkan perasaan sama dengan menunjukkan kelemahan. Ini membentuk kebiasaan diam saat marah.

Akibatnya, mereka belajar menyembunyikan rasa sakit. Mereka lebih memilih diam daripada terlihat rentan di mata orang lain.

2. Reaksi Negatif terhadap Ungkapan Emosi

Jika ekspresi emosional anak direspons dengan penolakan atau hukuman, mereka belajar mengaitkan bicara dengan konsekuensi negatif. Mereka akan berpikir bahwa mengutarakan emosi hanya akan membawa masalah. Ini mengajari mereka untuk menyimpan perasaan rapat-rapat.

Pengalaman ini membuat mereka takut untuk berbicara. Mereka memilih keheningan demi menghindari reaksi yang tidak menyenangkan.

3. Takut Membebani Orang Lain

Tumbuh dengan aturan tak terucapkan untuk tidak membebani orang lain dapat membuat orang dewasa memendam perasaan. Mereka khawatir akan terlihat mengeluh atau mencari perhatian yang tidak perlu. Ini mendorong mereka untuk tetap diam saat ada masalah.

Mereka merasa beban emosional mereka akan mengganggu. Mereka lebih suka menahan diri daripada menciptakan ketidaknyamanan bagi orang lain.

4. Belajar Menghindari Konflik

Dalam keluarga yang terbiasa menghindari perbedaan pendapat, anak-anak belajar mengaitkan bicara saat kesal dengan menyebabkan konflik. Mereka melihat bahwa mengungkapkan ketidaksetujuan hanya akan menciptakan ketegangan. Ini mengarah pada pilihan untuk diam.

Bagi mereka, keheningan adalah jalan termudah. Ini adalah upaya untuk menjaga perdamaian, bahkan jika itu berarti mengorbankan ekspresi diri.

5. Terkondisi Menjadi "People-Pleaser"

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore