
Ilustrasi seorang anak kecil yang duduk sendirian dengan ekspresi sedih, mencerminkan awal mula kebiasaan menekan emosi. (Freepik)
JawaPos.com - Banyak orang dewasa cenderung memilih diam ketika merasa kecewa atau marah, alih-alih mengungkapkan perasaan mereka. Perilaku ini sering kali membingungkan bagi orang di sekitarnya. Kebiasaan ini sebetulnya bisa berakar kuat dari pengalaman emosional di masa kecil.
Melansir dari Geediting.com Minggu (29/6), keheningan ini sering merupakan hasil dari beberapa kebiasaan emosional yang terbentuk saat usia dini. Mengenali pola ini adalah langkah penting untuk memahami cara kita bereaksi terhadap emosi. Mari kita telaah tujuh kebiasaan tersebut.
1. Diajari Bahwa Perasaan Itu Kelemahan
Anak-anak yang diajarkan menekan emosi, seperti dilarang menangis, cenderung menginternalisasi pelajaran ini. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa mengungkapkan perasaan sama dengan menunjukkan kelemahan. Ini membentuk kebiasaan diam saat marah.
Akibatnya, mereka belajar menyembunyikan rasa sakit. Mereka lebih memilih diam daripada terlihat rentan di mata orang lain.
2. Reaksi Negatif terhadap Ungkapan Emosi
Jika ekspresi emosional anak direspons dengan penolakan atau hukuman, mereka belajar mengaitkan bicara dengan konsekuensi negatif. Mereka akan berpikir bahwa mengutarakan emosi hanya akan membawa masalah. Ini mengajari mereka untuk menyimpan perasaan rapat-rapat.
Pengalaman ini membuat mereka takut untuk berbicara. Mereka memilih keheningan demi menghindari reaksi yang tidak menyenangkan.
3. Takut Membebani Orang Lain
Tumbuh dengan aturan tak terucapkan untuk tidak membebani orang lain dapat membuat orang dewasa memendam perasaan. Mereka khawatir akan terlihat mengeluh atau mencari perhatian yang tidak perlu. Ini mendorong mereka untuk tetap diam saat ada masalah.
Mereka merasa beban emosional mereka akan mengganggu. Mereka lebih suka menahan diri daripada menciptakan ketidaknyamanan bagi orang lain.
4. Belajar Menghindari Konflik
Dalam keluarga yang terbiasa menghindari perbedaan pendapat, anak-anak belajar mengaitkan bicara saat kesal dengan menyebabkan konflik. Mereka melihat bahwa mengungkapkan ketidaksetujuan hanya akan menciptakan ketegangan. Ini mengarah pada pilihan untuk diam.
Bagi mereka, keheningan adalah jalan termudah. Ini adalah upaya untuk menjaga perdamaian, bahkan jika itu berarti mengorbankan ekspresi diri.
5. Terkondisi Menjadi "People-Pleaser"

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
