
Mitos-Mitos Bulan Sura yang Masih Dipercaya Masyarakat Jawa Hingga Kini (kjpargeter/Freepik)
JawaPos.com - Bulan Suro atau Sura, dalam kalender Jawa, memang bukan bulan biasa. Ia dianggap sebagai bulan sakral yang menyimpan sejuta misteri dan energi spiritual yang tinggi.
Tak heran, banyak orang Jawa masih menjaga sikap hati-hati selama bulan ini. Di balik itu semua, ternyata ada banyak mitos seputar bulan Suro yang berkembang dari generasi ke generasi.
Mitos ini bukan sekadar cerita kosong, tapi bagian dari kearifan lokal yang membentuk cara masyarakat bersikap terhadap waktu-waktu tertentu.
Mitos Menggelar Hajatan di Bulan Sura: Menurut penjelasan dari salah satu video di kanal Youtube yang aktif membahas weton dan primbon jawa yakni Ngaos Jawa, salah satu mitos paling populer adalah larangan menggelar pesta pernikahan di bulan Suro.
Banyak yang percaya bahwa menikah di bulan ini bisa membawa sial atau kehidupan rumah tangga yang penuh ujian.
Alasannya, energi bulan Suro diyakini cenderung sunyi, menyendiri, dan bukan untuk perayaan. Maka dari itu, banyak pasangan lebih memilih bulan lain yang dianggap lebih bersahabat secara spiritual.
Larangan Keluar Malam Saat Sura: Mitos lain yang tak kalah menyeramkan adalah larangan keluar malam di malam satu Suro, terutama ke tempat-tempat wingit seperti kuburan, sendang, atau pohon keramat. Konon, malam ini adalah waktu ketika alam gaib terbuka lebar.
Arwah penasaran, makhluk halus, bahkan energi jahat dipercaya berkeliaran mencari celah untuk masuk ke dunia manusia. Banyak orang yang nekat justru mengalami hal-hal aneh seperti kerasukan, mimpi buruk berulang, atau bahkan kehilangan arah secara gaib.
Larangan Tidur Menghadap Cermin: Ada juga mitos tentang cermin di malam Suro. Masyarakat tua percaya bahwa tidur menghadap cermin di malam itu bisa membuka portal ke alam gaib. Cermin dianggap sebagai gerbang dua arah antara dunia manusia dan dunia makhluk halus. Jika tidak waspada, seseorang bisa ‘dilihat’ dari balik cermin, atau bahkan menjadi sasaran makhluk dari dimensi lain.
Meski sebagian orang menganggap mitos-mitos ini hanya warisan kuno yang tidak relevan dengan zaman modern, banyak yang masih memilih untuk menghormati dan menjalani laku prihatin di bulan Suro. Mereka percaya, dengan menghormati nilai-nilai warisan leluhur, hidup akan lebih selaras dengan alam semesta dan terhindar dari bala.
Penutupnya, mitos bulan Suro bukanlah sekadar cerita horor untuk menakut-nakuti, melainkan bentuk peringatan agar manusia tidak lupa akan batas-batas spiritual yang ada di dunia ini. Meski kita hidup di era modern, tak ada salahnya tetap menjaga sikap hormat terhadap waktu-waktu yang dianggap sakral.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
