Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Maret 2025 | 20.50 WIB

8 Ucapan Baby Boomer yang Bikin Generasi Z dan Milenial Jengah, Salah Satunya "Dulu Zaman Saya..."

Ilustrasi kata-kata yang memotivasi para jomblo. (Pexels/Le Minh)

 
JawaPos.com - Setiap generasi memiliki perspektifnya sendiri berdasarkan pengalaman hidup mereka. Sehingga, beberapa ungkapan-ungkapan khas generasi baby boomer mungkin terdengar menyebalkan bagi generasi muda alias generasi Z dan milenial.
 
Ungkapan-ungkapan ini sering kali dianggap kuno, meremehkan, atau bahkan kurang relevan dengan kondisi zaman sekarang.
 
Kalau kamu sering mendengar orang tua atau kakek-nenek berkata seperti ini, jangan heran kalau kamu langsung merasa tidak nyaman. Berikut delapan ucapan khas boomer yang sering bikin generasi muda mengernyitkan dahi, dikutip dari News Reports, Jumat (21/3).
 
 
1. “Tarik dirimu sendiri dengan tali sepatu botmu”
 
Kalimat ini awalnya bertujuan untuk menanamkan semangat kemandirian—bahwa seseorang harus bisa mengatasi masalahnya sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Tapi, dalam realitas zaman sekarang, ungkapan ini justru terasa seperti pengabaian terhadap tantangan hidup yang semakin kompleks.
 
Bagi banyak anak muda, masalah seperti krisis ekonomi, ketidakstabilan pekerjaan, dan tekanan mental bukanlah sesuatu yang bisa diatasi hanya dengan "menarik tali sepatu sendiri." Dan ngomong-ngomong, siapa yang masih pakai sepatu bot bertali di era sneakers dan slip-on ini?
 
2. “Dulu zaman saya...”
 
Kalimat pembuka ini sering kali diikuti dengan cerita tentang betapa hidup dulu lebih sulit, tetapi entah bagaimana terasa lebih mudah bagi mereka. Misalnya, seseorang dari generasi boomer mungkin berkata, “Dulu, kalau mau kerja, cukup datang ke perusahaan, kasih lamaran, langsung diterima.”
 
Masalahnya, dunia kerja sekarang jauh lebih kompetitif. Banyak orang muda yang punya gelar sarjana tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak. Jadi, perbandingan seperti ini sering kali terasa mengabaikan realitas saat ini dan bukannya memberikan nasihat yang benar-benar berguna.
 
3. “Uang itu tidak tumbuh di pohon”
 
Ah, ungkapan klasik yang sering dipakai orang tua untuk mengingatkan anak-anak agar tidak boros. Secara harfiah, memang benar uang tidak tumbuh di pohon, tapi bagi generasi muda yang hidup di tengah biaya hidup yang semakin tinggi, ucapan ini bisa terasa kurang sensitif.
 
Bayangkan kamu sedang berbicara tentang beratnya membayar uang kuliah atau cicilan rumah, lalu seseorang hanya menjawab dengan kalimat ini. Rasanya seperti permasalahan finansialmu dianggap remeh, padahal situasi ekonomi sekarang jauh berbeda dari puluhan tahun lalu.
 
4. “Anak zaman sekarang hidupnya enak banget”
 
Memang, kemajuan teknologi telah membuat banyak hal jadi lebih mudah. Tapi, bukan berarti generasi muda tidak menghadapi tantangan mereka sendiri.
 
Tekanan dari media sosial, sulitnya mendapatkan pekerjaan tetap, serta meningkatnya masalah kesehatan mental adalah beberapa contoh masalah yang dialami generasi muda saat ini. Jadi, menganggap mereka hidup "terlalu mudah" bisa terasa meremehkan perjuangan mereka.
 
5. “Kamu tidak tahu betapa beruntungnya kamu”
 
Ucapan ini sering muncul ketika seseorang dari generasi muda mengeluh tentang suatu masalah. Maksudnya mungkin untuk mengingatkan agar lebih bersyukur, tapi cara penyampaiannya bisa membuat orang merasa diabaikan.
 
Sebagai contoh, jika seseorang mengungkapkan stres karena beban kerja yang berat dan hanya mendapatkan tanggapan seperti ini, rasanya malah membuat mereka merasa bersalah atas perasaan mereka sendiri. Padahal, setiap generasi punya tantangan masing-masing, dan semua itu valid untuk dirasakan.
 
6. “Hormati orang yang lebih tua”
 
Tentu saja menghormati orang lain, terutama yang lebih tua, adalah nilai yang baik. Tapi, masalahnya adalah ketika ungkapan ini digunakan untuk menutup kritik atau menghindari diskusi yang sehat.
 
Hormati yang lebih tua? Tentu! Tapi, bukankah seharusnya rasa hormat itu diberikan berdasarkan sikap dan tindakan seseorang, bukan hanya berdasarkan usia mereka? Generasi muda lebih cenderung berpikir bahwa rasa hormat harus bersifat timbal balik, bukan sesuatu yang diterima begitu saja hanya karena faktor umur.
 
7. “Hidup itu memang tidak adil”
 
Ini adalah ucapan lain yang, meskipun ada benarnya, sering kali terasa seperti alasan untuk tidak mencari solusi.
 
Ketika seseorang berbagi keluh kesah tentang kesulitan hidup, mendapatkan jawaban seperti ini justru bisa terasa menyakitkan. Alih-alih merasa didukung, mereka malah merasa disuruh menerima keadaan tanpa berusaha mencari jalan keluar.
 
Terkadang, orang hanya butuh didengar dan divalidasi, bukan langsung diberi pengingat bahwa dunia ini keras dan tidak peduli dengan perasaan mereka.
 
8. “Generasi sekarang tidak punya sopan santun”
 
Salah satu kritik favorit dari generasi boomer terhadap anak muda adalah bahwa mereka kurang sopan atau tidak menghargai tradisi. Tapi, apa benar begitu?
 
Faktanya, norma sosial terus berubah seiring waktu. Generasi muda mungkin memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan rasa hormat—misalnya, lebih memilih komunikasi yang setara daripada terlalu formal.
 
Menggeneralisasi satu generasi sebagai "tidak punya sopan santun" hanya akan menciptakan kesenjangan yang lebih besar antara kelompok usia. Sebaliknya, memahami bahwa budaya dan kebiasaan berubah bisa menjadi langkah awal untuk menjembatani perbedaan.
 

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore