JawaPos.com-Tumbuh dengan ibu yang suka mengatur segalanya bisa membentuk kepribadian seseorang dengan cara yang baru terasa saat dewasa. Apalagi bila anak tersebut adalah perempuan.
Jika setiap keputusan harus mendapatkan persetujuan, setiap tindakan diawasi, dan setiap kesalahan dianggap fatal oleh satu orang saja di dalam rumah, itu pasti meninggalkan jejak dalam diri.
Awalnya mungkin tidak terasa. Bisa jadi Anda menganggap diri mandiri, perfeksionis, atau sekadar berhati-hati. Namun, seiring waktu, pola tertentu mulai muncul—sebuah refleksi dari bertahun-tahun mencoba memenuhi ekspektasi yang tinggi atau menghindari konflik.
Tidak semuanya negatif, tetapi pola-pola ini bisa memengaruhi cara Anda berhubungan dengan orang lain, merespons kritik, dan bahkan bagaimana Anda memandang diri sendiri.
Jika Anda dibesarkan oleh ibu yang suka mengontrol, mungkin beberapa hal ini terasa familiar berikut ini, dikutip dari Blog Herald, Kamis (20/3).
1. Sulit Membuat Keputusan
Saat sejak kecil segala keputusan dibuatkan oleh ibu, memilih sesuatu sendiri bisa terasa menakutkan.
Mulai dari hal sederhana seperti memilih pakaian hingga keputusan besar dalam hidup, selalu ada rasa ragu dan takut salah. Karena terbiasa mengandalkan persetujuan orang lain, mereka bisa mengalami kecemasan dalam mengambil keputusan dan sering mencari validasi sebelum melangkah.
2. Sulit Menetapkan Batasan
Banyak dari mereka yang tumbuh dengan ibu dominan tidak terbiasa memiliki batasan yang jelas.
Sejak kecil, ruang pribadi mereka mungkin sering diterobos, pendapat mereka dikesampingkan, dan kata "tidak" tidak dianggap sebagai pilihan. Akibatnya, saat dewasa, mereka cenderung kesulitan menolak permintaan orang lain, bahkan ketika itu merugikan diri sendiri.
Mereka bisa merasa bersalah ketika mencoba membela diri, karena di masa lalu, perlawanan sering berujung pada rasa bersalah atau konflik yang tidak diinginkan.
3. Terlalu Keras pada Diri Sendiri
Ketika sejak kecil selalu dikoreksi dan dituntut untuk sempurna, perasaan "tidak cukup baik" bisa terbawa hingga dewasa.
Mereka cenderung memiliki standar tinggi, sering mengkritik diri sendiri, dan sulit menerima kegagalan. Hal ini bisa membuat mereka bekerja terlalu keras, takut berbuat kesalahan, atau merasa gagal jika tidak memenuhi ekspektasi yang ada di kepala mereka sendiri.
Menyadari bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar bisa menjadi langkah pertama untuk membebaskan diri dari tekanan ini.
4. Merasa Bertanggung Jawab atas Perasaan Orang Lain
Jika sejak kecil mereka harus membaca suasana hati ibu dan berusaha menyenangkan beliau untuk menghindari konflik, mereka bisa tumbuh menjadi orang yang terlalu peduli dengan perasaan orang lain.
Mereka mungkin menghindari konfrontasi, mengorbankan kebutuhannya sendiri demi menjaga kedamaian, atau merasa bersalah jika orang lain kecewa.
Namun, penting untuk memahami bahwa tidak semua emosi orang lain adalah tanggung jawab kita.
5. Terlalu Sering Minta Maaf
Kata "maaf" bisa keluar dari mulut mereka bahkan saat tidak ada kesalahan yang dilakukan.
Mereka meminta maaf karena merasa merepotkan, karena memiliki pendapat berbeda, atau bahkan hanya karena berbicara. Ini adalah kebiasaan yang terbentuk dari lingkungan di mana mereka merasa harus selalu membenarkan keberadaan mereka.
Namun, terlalu sering meminta maaf bisa memberi kesan bahwa mereka tidak percaya diri atau tidak menghargai diri sendiri.
6. Sulit Mempercayai Insting Sendiri
Jika setiap keputusan mereka dulu dipertanyakan atau dibatalkan oleh ibu, mereka bisa tumbuh menjadi orang yang ragu dengan naluri mereka sendiri.
Mereka sering overthinking, takut salah langkah, dan merasa perlu mendapatkan pendapat orang lain sebelum bertindak.
Namun, kepercayaan pada diri sendiri itu bisa dilatih. Semakin sering mereka mengambil keputusan sendiri dan melihat hasilnya, semakin kuat kepercayaan pada intuisi mereka sendiri.
7. Menganggap Cinta Harus Disertai Kontrol
Jika sejak kecil mereka diajari bahwa "cinta" berarti diawasi, dikontrol, atau selalu diarahkan, mereka bisa tumbuh dengan pemahaman yang salah tentang hubungan.
Mereka mungkin merasa nyaman dengan pasangan yang posesif atau menganggap kecemburuan sebagai tanda cinta. Sebaliknya, hubungan yang memberi kebebasan bisa terasa aneh atau kurang "hangat" karena tidak sesuai dengan pola yang mereka kenal sejak kecil.
Namun, cinta sejati seharusnya tidak membuat seseorang merasa terkekang. Cinta yang sehat memberi ruang untuk tumbuh, bukan untuk dikendalikan. (*)