Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 2 Maret 2025 | 22.56 WIB

7 Kebiasaan Pola Parenting yang Tanpa Disadari Bisa Membuat Anak Takut pada Orang Tua, Salah Satunya Sarkasme

Ilustrasi anak dan orang tua (jcomp/freepik)

 
JawaPos.com - Setiap orang tua pasti ingin anak-anak mereka merasa nyaman, percaya, dan mencintai mereka. Namun, tanpa sadar, ada beberapa kebiasaan yang justru membuat anak merasa takut atau ragu untuk terbuka kepada orang tuanya. 
 
Bukan karena kita bermaksud jahat, tetapi terkadang cara kita berkomunikasi atau bertindak orang tua bisa membuat mereka merasa tidak aman.
 
Kabar baiknya, begitu kita menyadari kebiasaan-kebiasaan ini, kita bisa memperbaikinya. Berikut adalah tujuh perilaku yang tanpa sadar bisa menjauhkan anak dari orang tua—dan bagaimana cara mengatasinya, dikutip dari Geediting, Minggu (2/3).
 
 
1. Membangun Otoritas dengan Ketakutan, Bukan Kepercayaan
 
Banyak orang tua berpikir bahwa bersikap tegas akan membuat anak patuh dan menghormati mereka. Namun, jika kepatuhan itu berasal dari rasa takut, anak justru akan mulai menyembunyikan hal-hal dari orang tuanya. 
 
Mereka akan lebih khawatir tentang hukuman daripada memahami nilai-nilai yang ingin diajarkan. Rasa hormat yang sesungguhnya tumbuh dari rasa aman dan kepercayaan. Daripada membuat anak takut, cobalah membangun hubungan yang lebih terbuka. 
 
Jadilah tempat yang aman bagi mereka untuk berbicara, bahkan ketika mereka melakukan kesalahan.
 
2. Mengabaikan Perasaan Anak
 
Terkadang, tanpa sadar kita meremehkan perasaan anak dengan berkata, "Ah, itu bukan masalah besar," atau "Jangan terlalu lebay".Mungkin niatnya baik ingin mengajarkan anak untuk tidak terlalu emosional tapi yang mereka tangkap bisa berbeda.
 
Jika anak sering merasa diabaikan, mereka mungkin akan mulai berpikir bahwa perasaan mereka tidak penting. Akibatnya, mereka enggan berbagi atau mencari dukungan dari orang tua.
 
Cobalah untuk mendengarkan dengan penuh perhatian. Alih-alih meremehkan perasaan mereka, gunakan kata-kata yang menunjukkan empati, seperti "Wah, pasti itu terasa sulit ya." Dengan begitu, anak akan merasa dihargai dan didengar.
 
3. Tidak Benar-benar Hadir Saat Bersama Anak
 
Di zaman digital ini, mudah sekali terganggu oleh ponsel, pekerjaan, atau hal-hal lain saat anak berbicara. Namun, anak-anak tahu ketika perhatian kita terpecah. Jika ini terjadi terus-menerus, mereka bisa merasa tidak penting.
 
Luangkan waktu untuk benar-benar hadir saat bersama anak. Kontak mata, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan menaruh ponsel saat berbicara bisa membuat mereka merasa lebih dihargai. 
 
Kehadiran yang penuh perhatian bisa mempererat hubungan dan membangun rasa percaya anak kepada orang tua.
 
4. Menuntut Kesempurnaan
 
Kita semua ingin anak-anak kita melakukan yang terbaik, tapi jika mereka merasa bahwa apa pun yang mereka lakukan tidak pernah cukup baik, itu bisa menimbulkan kecemasan.
 
Anak yang takut gagal cenderung lebih memilih untuk tidak mencoba sesuatu daripada menghadapi kemungkinan mengecewakan orang tuanya. 
 
Mereka belajar bahwa kegagalan adalah sesuatu yang harus dihindari, bukan bagian dari proses belajar. Daripada menekankan hasil akhir, hargai usaha mereka. Ucapkan hal-hal seperti, "Aku suka melihat kamu berusaha keras," untuk menunjukkan bahwa proses lebih penting daripada hasil. 
 
Dengan begitu, anak akan lebih percaya diri untuk mencoba dan berkembang.
 
5. Selalu Turun Tangan untuk Membantu
 
Sebagai orang tua, wajar jika kita ingin membantu anak saat mereka kesulitan. Namun, jika kita selalu turun tangan, anak bisa merasa bahwa mereka tidak mampu menghadapi tantangan sendiri.
 
Membiarkan anak mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri bisa mengajarkan mereka ketahanan dan kemandirian. 
 
Bantu mereka dengan memberikan arahan, bukan langsung menyelesaikan masalah untuk mereka. Misalnya, tanyakan, "Kamu butuh bantuan seperti apa?" daripada langsung mengambil alih.
 
6. Menggunakan Sarkasme atau Lelucon Kasar
 
Apa yang bagi kita terdengar seperti candaan ringan, bagi anak bisa terasa menyakitkan. Sarkasme atau ejekan seperti, "Wah, hebat banget kamu bikin berantakan," bisa membuat mereka merasa tidak cukup baik.
 
Alih-alih membangun kepercayaan, lelucon seperti ini bisa membuat anak takut berbuat salah di depan orang tua. Seiring waktu, mereka mungkin mulai menutup diri atau merasa tidak cukup baik.
 
Sebagai gantinya, cobalah memberi dorongan positif yang membangun kepercayaan diri mereka. Jika ingin memberikan koreksi, lakukan dengan cara yang lembut dan mendukung.
 
7. Menahan Kasih Sayang Saat Sedang Kesal
 
Saat anak berbuat kesalahan, wajar jika kita merasa kecewa. Namun, jika kita merespons dengan menarik diri secara emosional—misalnya dengan mendiamkan mereka atau menjadi dingin—anak bisa belajar bahwa kasih sayang bersifat bersyarat.
 
Mereka mungkin berpikir bahwa mereka hanya layak dicintai ketika berperilaku baik, dan itu bisa berdampak pada rasa percaya diri mereka.
 
Penting untuk menunjukkan bahwa meskipun kita kecewa dengan tindakan mereka, cinta kita tetap ada. Kita bisa berkata, "Mama kecewa dengan apa yang kamu lakukan, tapi Mama tetap sayang kamu." Dengan begitu, anak tahu bahwa mereka diterima dan dicintai tanpa syarat.
 

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore