
Ilustrasi tujuh sifat orang yang senang memprovokasi orang lain dan apa yang membuatnya bersemangat./Pexels.
JawaPos.com - Beberapa orang memang suka memencet tombol emosi orang lain. Mereka selalu mengaduk-aduk panci, mengusik diri sendiri, dan entah bagaimana menikmati setiap detik kegiatan tersebut.
Orang-orang ini tampaknya senang membuat orang lain tidak nyaman. Faktanya, ada ciri-ciri psikologis yang jelas membedakan orang-orang ini dengan orang lain.
Dilansir dari Small Business Bonfire, inilah tujuh sifat orang yang senang memprovokasi orang lain dan apa yang membuatnya bersemangat.
1. Kurang memiliki empati emosional
Sebagian orang dapat merasakan ketika kamu sedang marah dan menanggapinya dengan kebaikan. Sebagian lainnya? Tidak begitu. Salah satu ciri terbesar orang yang gemar mengganggu orang lain adalah kurangnya empati emosional.
Mereka tidak benar-benar merasakan apa yang dirasakan orang lain, yang membuatnya mudah memprovokasi tanpa merasa bersalah. Alih-alih berpikir, “Bagaimana perasaan seseorang jika hal ini terjadi?” mereka berfokus pada rasa senang atau rasa kendali yang mereka miliki.
Hal ini tidak berarti mereka tidak berperasaan, hanya saja mereka kesulitan untuk terhubung dengan emosi orang lain pada level yang dalam. Keterpisahan itu memungkinkan mereka untuk mendorong batas tanpa ragu-ragu.
2. Berkembang dengan kontrol dan kendali
Mereka mungkin suka berkomentar sinis, mengolok-olok masalah pribadi, lalu duduk santai sambil menyeringai, menyaksikan kekacauan yang terjadi. Menekan tombol emosi orang lain memberinya rasa berkuasa.
Jika ia dapat membuat seseorang bereaksi, itu berarti ia adalah orang yang memegang kendali.
Bagi seseorang yang mungkin merasa tidak berdaya di bidang lain dalam hidupnya, ini adalah caranya untuk meraih keunggulan.
Psikolog Alfred Adler pernah berkata, “Satu-satunya orang yang normal adalah mereka yang tidak Anda kenal dengan baik.” Buat mereka membuat drama bukan sekadar kebiasaan. Itu adalah cara untuk merasa memegang kendali saat hidup terasa tidak pasti.
3. Menyamakan penghinaan sebagai lelucon
"Leluconnya" selalu mengandung rasa pedas. Jika seseorang berbagi suatu ide, dia akan memutar matanya dan berkata, "Wah, lihatlah filsuf hebat berikutnya." Jika seseorang melakukan kesalahan kecil, dia akan tertawa kecil dan berkata, “Klasik sekali dirimu.”
Setiap kali orang lain menegurnya, mereka akan mengangkat bahu dan berkata, "Tenang saja, aku hanya mempermainkanmu." Dan itulah jebakannya. Jika seseorang bereaksi, orang itu akan terlihat terlalu sensitif. Jika orang itu tetap diam, maka dia membiarkan hinaan itu berlalu begitu saja.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
