Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Februari 2025 | 09.16 WIB

Sering Jadi Provokator: Ketahui 7 Ciri Orang yang Senang Mengganggu Orang Lain Menurut Psikologi

Ilustrasi tujuh sifat orang yang senang memprovokasi orang lain dan apa yang membuatnya bersemangat./Pexels. - Image

Ilustrasi tujuh sifat orang yang senang memprovokasi orang lain dan apa yang membuatnya bersemangat./Pexels.

JawaPos.com - Beberapa orang memang suka memencet tombol emosi orang lain. Mereka selalu mengaduk-aduk panci, mengusik diri sendiri, dan entah bagaimana menikmati setiap detik kegiatan tersebut.

Orang-orang ini tampaknya senang membuat orang lain tidak nyaman. Faktanya, ada ciri-ciri psikologis yang jelas membedakan orang-orang ini dengan orang lain.

Dilansir dari Small Business Bonfire, inilah tujuh sifat orang yang senang memprovokasi orang lain dan apa yang membuatnya bersemangat.

1. Kurang memiliki empati emosional

Sebagian orang dapat merasakan ketika kamu sedang marah dan menanggapinya dengan kebaikan. Sebagian lainnya? Tidak begitu. Salah satu ciri terbesar orang yang gemar mengganggu orang lain adalah kurangnya empati emosional.

Mereka tidak benar-benar merasakan apa yang dirasakan orang lain, yang membuatnya mudah memprovokasi tanpa merasa bersalah. Alih-alih berpikir, “Bagaimana perasaan seseorang jika hal ini terjadi?” mereka berfokus pada rasa senang atau rasa kendali yang mereka miliki.

Hal ini tidak berarti mereka tidak berperasaan, hanya saja mereka kesulitan untuk terhubung dengan emosi orang lain pada level yang dalam. Keterpisahan itu memungkinkan mereka untuk mendorong batas tanpa ragu-ragu.

2. Berkembang dengan kontrol dan kendali

Mereka mungkin suka berkomentar sinis, mengolok-olok masalah pribadi, lalu duduk santai sambil menyeringai, menyaksikan kekacauan yang terjadi. Menekan tombol emosi orang lain memberinya rasa berkuasa.

Jika ia dapat membuat seseorang bereaksi, itu berarti ia adalah orang yang memegang kendali.

Bagi seseorang yang mungkin merasa tidak berdaya di bidang lain dalam hidupnya, ini adalah caranya untuk meraih keunggulan.

Psikolog Alfred Adler pernah berkata, “Satu-satunya orang yang normal adalah mereka yang tidak Anda kenal dengan baik.” Buat mereka membuat drama bukan sekadar kebiasaan. Itu adalah cara untuk merasa memegang kendali saat hidup terasa tidak pasti.

3. Menyamakan penghinaan sebagai lelucon

"Leluconnya" selalu mengandung rasa pedas. Jika seseorang berbagi suatu ide, dia akan memutar matanya dan berkata, "Wah, lihatlah filsuf hebat berikutnya." Jika seseorang melakukan kesalahan kecil, dia akan tertawa kecil dan berkata, “Klasik sekali dirimu.”

Setiap kali orang lain menegurnya, mereka akan mengangkat bahu dan berkata, "Tenang saja, aku hanya mempermainkanmu." Dan itulah jebakannya. Jika seseorang bereaksi, orang itu akan terlihat terlalu sensitif. Jika orang itu tetap diam, maka dia membiarkan hinaan itu berlalu begitu saja.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore