
Ilustrasi orang yang mengincar centang biru di media sosial.
JawaPos.com - Kini media sosial sangatlah akrab dengan kehidupan kita, mulai dari kegiatan sehari-hari, serta perasaan dan pikiran sendiri di tuangkan dalam bentuk tulisan atau video.
Media sosial juga membuat kita merasa ingin diperhatikan, diikuti banyak orang, bahkan pujian atas prestasi. Hal itulah yang membuat kebanyakan orang sangat menginginkan logo centang biru di akun media sosialnya.
Dilansir dari laman Small Biz Technology pada Senin (17/02) inilah 7 perilaku orang yang menggunakan logo centang biru di media sosial hanya untuk simbol status:
1. Mendambakan validasi eksternal
Bagi sebagian orang, centang biru hanyalah alat, tapi bagi yang lain adalah bukti nilai mereka. Psikolog telah lama mempelajari kebutuhan manusia akan validasi, dan media sosial hanya memperkuatnya.
Orang-orang ini sering mencari persetujuan dari orang lain untuk mengkonfirmasi nilai mereka. Alih-alih berfokus pada pencapaian dunia nyata atau pertumbuhan internal, mereka menggunakan centang biru sebagai jalan pintas untuk membuktikan status sosial mereka.
Jadi, ketika harga diri terikat pada sesuatu yang tidak stabil seperti algoritma atau kebijakan platform sosial, itu dapat menyebabkan ketidakamanan dan siklus tanpa akhir yang membutuhkan lebih banyak pengakuan.
2. Menyamakan status online dengan dunia nyata
Seluruh identitas mereka tampak terbungkus dalam centang biru itu, seolah-olah itu saja membuktikan kesuksesan mereka. Psikolog Carl Rogers pernah berkata, “Kehidupan yang baik adalah sebuah proses, bukan keadaan keberadaan. Ini adalah sebuah arah, bukan sebuah tujuan.”
Tetapi bagi sebagian orang, verifikasi media sosial terasa seperti tujuan dan bukti bahwa mereka telah "berhasil." Masalahnya adalah kesuksesan nyata tidak ditentukan oleh lencana atau ukuran para pengikut, tapi ini tentang dampak, keterampilan, dan pertumbuhan yang berkelanjutan.
3. Mengaitkan harga diri dengan pengakuan digital
Bagi orang-orang yang menggunakan centang biru sebagai simbol status, ini tentang harga diri. Garis antara siapa mereka dan bagaimana mereka dirasakan secara online mulai hilang, dan itu bisa berbahaya.
Banyak orang yang mengejar status online benar-benar hanya mencoba mengisi kekosongan internal. Inilah kebenaran yang sulit, tidak ada jumlah persetujuan digital yang dapat memperbaiki sesuatu yang rusak di dalamnya.
4. Mereka mencari kekuatan melalui persepsi
Itu bukan hanya lencana untuk, tapi itu adalah pengaruh. Sehingga akan terlihat lebih layak mendapat perhatian, serta dalam kata-kata mereka, "masalah yang lebih besar daripada yang disadari kebanyakan orang."

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
