Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Februari 2025 | 23.44 WIB

4 Kebiasaan Orang Tua Ini Ternyata Dapat Merusak Kepercayaan Diri Anak!

Ilustrasi Orang tua yang suka merendahkan anak - Image

Ilustrasi Orang tua yang suka merendahkan anak

JawaPos.com – Dalam membesarkan anak, orang tua perlu berhati-hati terhadap tindakan dan perkataan mereka. Sebab, tak jarang perkataan dan tindakan orang tua akan memengaruhi bagaimana mental anak ke depannya.

Bahkan jika ditinjau dalam ilmu psikologi, perkataan dan tindakan orang tua juga dapat membuat anak menjadi tidak percaya diri.

Dilansir dari laman Psychology Today, Jumat (7/2), disebutkan bahwa beberapa perilaku orang tua dapat membuat kepercayaan diri anak menjadi rusak.

Sehingga, orang tua wajib untuk menjauhkan 4 hal berikut ini saat mendidik anak agar tidak membuat mental anak menjadi jatuh.

1. Kasar saat menyampaikan kritik

Mengkritik anak boleh-boleh saja, namun jika disampaikan dengan kasar, akan menyakitkan bagi anak. Ditinjau dalam sisi psikologi, orang tua yang terlalu kritis biasanya memiliki masalah dalam diri mereka.

Hal itu kerap kali dilampiaskan kepada anak-anak agar mereka bisa mengerti perasaan orang tua. Alih-alih membuat anak mengerti, hal itu justru membuat anak merasa tidak percaya diri, mudah marah dan frustasi, serta merasa sedih. Sehingga, kemampuan mereka pun menurun dan mereka juga akan mudah kehilangan motivasi.

2. Overprotektif

Orang tua memang wajib untuk melindungi anak. Namun jika dilakukan secara berlebihan, maka akan berubah menjadi kontrol berlebihan yang jutsru mengekang anak. Alih-alih melindungi, tindakan ini justru membatasi kesempatan anak bereksplorasi dan mempelajari hal-hal baru di sekitar mereka.

Padahal, hal itu sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Selain itu, tindakan orang tua yang overprotektif, akan membuat anak menjadi ketergantungan dan menyebabkan mereka tidak mandiri. Sehingga, hal tersebut juga akan memengaruhi pertumbuhan mereka saat dewasa dan juga akan menganggu kepercayaan diri mereka.

3. Penanaman rasa bersalah yang berlebihan

Menanamkan rasa bersalah pada anak memang bagus, terutama buat melatih anak dalam hal berempati dan bertanggung-jawab. Namun, terkadang orang tua seringkali melakukannya secara berlebihan. Alih-alih melatih anak berempati, mereka justru terlihat seperti memaksakan anak untuk merasa bersalah terhadap hal-hal yang bukan sepenuhnya kendali mereka. Seperti saat anak berusaha diskusi saat dinasehati, ada orang tua yang justru menganggap anak tersebut mengelak atau menjawab padahal, anak tidak bermaksud seperti itu.

Perlu diperhatikan bahwa, reaksi yang seperti ini akan membuat anak terus-terusan merasa bersalah akan pikiran, perasaan, dan tindakannya. Meskipun hal-hal itu bukan sepenuhnya kendali mereka dan tidak harus dibebankan kepada mereka. Hal tersebut juga akan membuat anak jadi tidak percaya diri. Sehingga, pentin bagi orang tua untuk fokus terhadap komunikasi yang terbuka dan pengertian.

4. Berbicara dengan sarkasme

Berbicara dengan sarkasme kepada anak justru dapat menyakiti mereka karena terkesan merendahkan. Orang tua memang terkadang ingin menyindir perbuatan anak yang tidak baik, namun dengan cara menyiratkan kebalikan agar anak mengerti maksud yang sebenarnya. Sayangnya, orang tua yang frustasi justru tanpa sadar berbicara dengan kesan yang merusak dan berakhir membuat anak menjadi direndahkan. Apalagi, berbicara dengan sarkasme justru dapat membuat situasi menjadi lebih buruk saat berkomunikasi dengan anak. Bahkan jika dilakukan terlalu sering, hal ini akan merusak kepercayaan diri anak dan menghambat komunikasi yang sehat.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore