Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 17 Januari 2025 | 00.31 WIB

Simak, Ini 6 Kepribadian Unik Orang yang Skeptis Terhadap Perubahan dan Lambat Beradaptasi, Menurut Psikologi

Ilustrasi orang yang skeptis terhadap perubahan. (Pexels) - Image

Ilustrasi orang yang skeptis terhadap perubahan. (Pexels)

JawaPos.com – Dengan kemajuan teknologi dan perkembangan zaman yang begitu pesat, kita sering dihadapkan pada berbagai perubahan yang mengubah cara hidup sehari-hari. 

Mulai dari kebiasaan sederhana seperti cara berbelanja, hingga inovasi besar seperti teknologi AI yang kini merambah berbagai sektor.  Namun, tidak semua orang mudah menerima perubahan. 

Ada orang-orang dengan kepribadian unik yang menunjukkan sikap skeptis terhadap perubahan. Menurut psikologi, ini bukan hanya tentang “tidak mau berubah,” melainkan cerminan dari cara mereka memproses dunia di sekitar mereka. 

Dilansir dari laman Hack Spirit pada Kamis (16/1) berikut adalah enam ciri khas orang yang skeptis terhadap perubahan.

  1. Lebih memilih hal-hal yang familiar

Orang yang skeptis terhadap perubahan sering kali merasa nyaman dengan hal-hal yang sudah mereka kenal. Keakraban memberikan rasa aman, sehingga mereka lebih memilih bertahan dengan rutinitas lama daripada mencoba sesuatu yang baru. 

Ini bukan berarti mereka membenci hal-hal baru, tetapi kenyamanan dan stabilitas lebih menarik bagi mereka.

Misalnya, mereka mungkin terus memesan makanan favorit di restoran yang sama selama bertahun-tahun, meski ada banyak opsi menarik lainnya. 

  1. Banyak bertanya sebelum mencoba hal yang baru

Pernahkah anda mendengar seseorang mengajukan sederet pertanyaan sebelum mencoba hal baru? Orang dengan sifat skeptis terhadap perubahan cenderung berhati-hati. 

Mereka ingin tahu alasan di balik sesuatu, memastikan semuanya masuk akal, dan meminimalkan ketidakpastian.

Meski bagi sebagian orang sikap ini terasa merepotkan, bagi mereka, ini adalah cara untuk memahami risiko dan manfaat dari perubahan tersebut. 

  1. Penghitung risiko yang cermat

Orang yang skeptis terhadap perubahan sering dianggap terlalu banyak berpikir. Namun, dari perspektif psikologi, ini adalah mekanisme perlindungan.

Mereka memiliki kebiasaan menganalisis setiap kemungkinan, terutama risiko negatif, sebelum memutuskan untuk menerima sesuatu yang baru. 

Misalnya, saat ada teknologi baru diperkenalkan di kantor, mereka mungkin akan berpikir panjang tentang dampaknya sebelum menggunakannya. Bagi mereka, kehati-hatian lebih baik daripada menyesal di kemudian hari.

  1. Butuh waktu untuk memproses perubahan

Perubahan besar sering kali membutuhkan waktu untuk dicerna, terutama bagi mereka yang skeptis terhadap perubahan. Bukan berarti mereka lamban, tetapi otak mereka bekerja lebih keras untuk memahami dampak dari perubahan tersebut. 

Dalam psikologi, ini dikenal sebagai "resistansi terhadap perubahan," yang biasanya terkait dengan kebutuhan untuk merasa kontrol atas situasi. Jika anda melihat seseorang tidak langsung antusias dengan ide baru, berikan mereka waktu. 

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore