
Ilustrasi seorang perempuan yang mengalami stres karena banyak tekanan. (Freepik)
JawaPos.com – Menurut jurnal Emerging Infectious Diseases, sekitar 8% dari populasi dunia mengidap penyakit autoimun, dan 78% diantaranya adalah perempuan.
Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk menjelaskan mengapa perempuan lebih rentan mengembangkan penyakit tersebut.
Namun, ada satu hal yang sering tidak dibahas, yaitu trauma. Tekanan umum yang dihadapi perempuan dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik mereka, dan kondisi inilah yang menjadi salah satu penyumbang persentase.
Seorang ahli trauma menjelaskan, bahwa perempuan yang mengembangkan penyakit autoimun cenderung memiliki empat ciri perilaku yang sama. Seperti dilansir dari laman Your Tango, berikut adalah penjelasannya.
1. Mementingkan kebutuhan emosional orang lain di atas kebutuhannya sendiri
Mereka sering kali memprioritaskan kebutuhan emosional orang lain di atas kebutuhan mereka sendiri.
Perlu diingat bahwa perilaku untuk menyenangkan orang lain, meskipun penuh kasih sayang, ada kalanya dapat menguras energi emosional dan merugikan kesejahteraan pribadi.
Saat kebiasaan ini menjadi ekstrem yang tidak sehat, kelelahan, stres, dan kecemasan, pada akhirnya dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, yang berkontribusi pada penyakit autoimun.
2. Terlalu mengidentifikasi diri dengan kewajiban dan tanggung jawab
Bukan hal baru, bahwa harapan masyarakat menempatkan peran berat pada perempuan. Mereka dituntut untuk memenuhi berbagai peran, seperti pengasuh, ibu, istri, dan pekerja.
Sejak usia dini, anak perempuan lebih sering diberi tugas untuk merawat adik-adik, membantu pekerjaan rumah, atau mengambil peran orang tua.
Banyak perempuan diajarkan bahwa mereka memiliki peran yang sangat spesifik dalam masyarakat. Sehingga, demi memenuhi semua peran tersebut, mereka sering kali mengorbankan kebutuhan diri mereka sendiri.
Ketidakseimbangan ini pada akhirnya dapat menyebabkan stres yang luar biasa dan masalah kesehatan, termasuk kondisi autoimun.
3. Memendam amarah
Ekspektasi sosial mendorong perempuan untuk menekan kemarahan. Kemarahan sering dianggap sebagai emosi yang ‘tidak baik’dan tidak feminin, sehingga perempuan diajarkan untuk menekan dan mengabaikannya sebisa mungkin.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
