Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 29 Desember 2024 | 23.01 WIB

Sulit Menerima Perubahan: 8 Tanda Orang yang Tidak Pernah Keluar dari Zona Nyaman, Begini Kata Psikologi

Ilustrasi orang yang sulit menerima perubahan../Freepik. - Image

Ilustrasi orang yang sulit menerima perubahan../Freepik.

JawaPos.com - Kita semua pernah mendengar bahwa setiap orang sukses pasti berani keluar dari zona nyaman, dan mereka yang cenderung mandeg akan sulit mendapatkan peluang kesuksesan itu.

Tapi ini tak hanya tentang kesuksesan, keluar dari zona nyaman bisa memberikan kita perubahan dalam hidup serta memperkaya pengalaman. Tapi tentunya tidak berani dilakukan oleh setiap orang.

Dilansir dari laman Personal Branding, ada 8 tanda orang yang tidak pernah keluar dari zona nyaman, begini menurut psikologi :

1. Selalu menghindari pengalaman baru 

Seseorang yang tidak pernah keluar dari zona nyaman mungkin sering kali terlihat puas, bahkan bahagia dengan hidupnya. Mereka mungkin tidak mengungkapkan ketidakpuasan atau kerinduan akan sesuatu yang lebih.

Kenyataannya, ini bisa menjadi tanda bahwa mereka tidak menantang diri sendiri atau mencari pengalaman baru. Mereka telah menemukan ritme hidup yang nyaman dan mereka menaatinya. Tapi dibalik kepuasan ini, mungkin terdapat kekurangan dalam pemenuhan yang nyata.

3. Punya tingkat kecemasan yang tinggi terhadap perubahan

Otak manusia memang diatur untuk lebih memilih prediktabilitas dan rutinitas. Ini adalah mekanisme bertahan hidup yang membantu kita menghindari potensi bahaya.

Di alam liar, mengikuti jalur dan rutinitas yang diketahui berarti keselamatan, sementara menjelajahi wilayah yang tidak diketahui dapat menimbulkan ancaman.

Baca Juga: Tes Kepribadian Gambar Garpu atau Tangan Manusia: Apakah Kamu Pekerja Keras atau Orang yang Santai Menikmati Hidup

Namun, di dunia sekarang ini, preferensi terhadap rutinitas dapat membatasi kita. Perubahan adalah bagian kehidupan yang tak terhindarkan dan sering kali kita menemukan peluang untuk berkembang.

4. Sering merasa disalahpahami

Ini bukan karena mereka sulit diajak berteman, tapi karena membatasi pengalaman dan perspektifnya sehingga lebih sulit untuk terhubung dengan orang lain pada tingkat yang lebih dalam.

Tidak mudah untuk merasa seperti orang asing di dunia sendiri. Ini bisa terasa sepi dan mengecewakan, tapi justru mereka lebih memili berada dalam batas-batas zona nyamannya.

5. Perfeksionis

Mereka mungkin menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyempurnakan suatu tugas ketika orang lain merasa puas dengan “cukup baik”. Kebutuhan akan kesempurnaan ini sering kali menjadi tanda seseorang tidak pernah keluar dari zona nyamannya.

Soalnya, perfeksionisme sering kali menjadi perisai terhadap hal-hal yang tidak diketahui dan tidak dapat diprediksi. Dengan mengendalikan setiap detail kecil, mereka merasa aman dan terlindungi. Setiap situasi bisa diperhitungkan, setiap hasil bisa diprediksi.

6. Selalu menempel dengan orang dan tempat yang dikenalnya

Kecenderungan untuk tetap dekat dengan orang-orang dan tempat-tempat yang sudah dikenal adalah tanda umum lainnya dari seseorang yang hidup dalam zona nyamannya.

Prediktabilitas memberikan rasa aman dan kendali. Orang-orang baru, percakapan baru, lingkungan baru, semua ini bisa terasa membebani dan tidak dapat diprediksi.

Bukan berarti mereka tidak ramah. Tapi faktanya, mereka mungkin sangat hangat dan terlibat dalam lingkaran yang mereka kenal. Namun menjelajah melampaui gelembung aman ini bisa terasa menakutkan.

7. Mengabaikan peluang untuk berkembang

Kita semua pernah menemukan peluang yang sedikit membuat kita takut. Itu normal, tapi jika terus-menerus mengabaikan peluang-peluang ini, terutama ketika hal-hal tersebut dapat mengarah pada pertumbuhan pribadi atau profesional, merupakan tanda jelas bahwa seseorang terjebak dalam zona nyamannya.

Ini mungkin terdengar seperti, “Saya belum siap,” atau “Saya rasa saya tidak pandai dalam hal itu.” Meskipun perasaan ini valid, perasaan ini juga bisa menjadi alasan untuk menghindari hal yang tidak diketahui.

Inilah kenyataan pahitnya, pertumbuhan tidak terjadi di zona nyaman kita. Hal ini terjadi ketika memaksakan diri, mengambil risiko, dan menerima tantangan. Jika seseorang terus-menerus menghindari peluang ini, kemungkinan besar mereka membiarkan zona nyaman menghambatnya.

8. Kurang percaya diri

Inti dari semua itu, seseorang yang tidak pernah benar-benar meninggalkan zona nyamannya sering kali kurang percaya diri. Mereka mungkin meragukan kemampuan untuk menangani pengalaman baru, mengatasi perubahan, atau menghadapi situasi yang tidak biasa.

Kurangnya rasa percaya diri ini dapat membatasi. Hal ini menghambat mereka dalam mengambil risiko, memanfaatkan peluang, dan pada akhirnya mewujudkan potensi penuh mereka.

Tapi ingat, kepercayaan diri bukanlah sesuatu yang kamu miliki sejak lahir. Hal ini dibangun seiring berjalannya waktu, melalui pengalaman dan mengatasi tantangan.

Dikutip dari laman Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara, keluar dari zona nyaman memang sering kali terdengar menakutkan. Oleh karena itu lebih baik untuk memperluas zona nyaman.

Memperluas zona nyaman berarti meningkatkan kapasitas kita secara perlahan tetapi pasti, tanpa harus merasa kehilangan kontrol atas keadaan kita. Inilah konsep yang mungkin lebih terdengar realistis.

Untuk melakukannya, kamu bisa meningkatkan keahlian, mengatur risiko dengan bijak, membangun relasi, meningkatkan produktivitas secara bertahap, serta melatih fleksibilitas emosional.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore