Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 25 Desember 2024 | 19.05 WIB

Validasi Digital Menurut Psikologi: Apakah Anda Terlalu Peduli Jumlah Like di Media Sosial? Kenali 9 Tandanya!

 
 

Ilustrasi orang yang bermain sosial media. (Freepik) 

 
JawaPos.Com - Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan modernm seperti saat ini.
 
Di dunia maya, hanya dengan satu klik kita bisa mengunggah momen-momen terbaik, membagikan pemikiran, atau bahkan memamerkan pencapaian. 
 
Namun, ada satu elemen yang sering kali menjadi indikator tak kasat mata dari rasa puas atau kecewa seseorang: jumlah "like" yang diterima. 
 
Bagi sebagian orang, like hanyalah angka, tetapi bagi mereka yang terobsesi dengan validasi digital, jumlah like adalah ukuran harga diri, pengakuan sosial, bahkan kebahagiaan. 
 
Obsesi ini bukan hanya soal kebiasaan, tetapi juga mencerminkan sisi psikologis yang lebih dalam. 
 
Dilansir dari Geediting.com, inilah sembilan kepribadian orang yang terobsesi dengan jumlah like di media sosial menurut psikologi, mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di balik layar unggahan mereka.  
 
 
1. Selalu Mencari Validasi

Dalam era media sosial yang serba digital, banyak orang yang terjebak dalam lingkaran kebutuhan akan validasi. 

Mereka yang terobsesi dengan jumlah like sering kali memiliki keinginan yang mendalam untuk merasa diterima oleh orang lain. 

Setiap like di media sosial dianggap sebagai simbol penerimaan sosial, sebuah bentuk pengakuan bahwa keberadaan mereka diakui dan dihargai. 

Hal ini mencerminkan kebutuhan mendalam untuk mendapatkan validasi dari lingkungan sosial mereka. 

Dalam psikologi, fenomena ini sering kali dikaitkan dengan individu yang memiliki tingkat rasa percaya diri yang rendah atau merasa kurang dihargai dalam kehidupan nyata. 

Akibatnya, media sosial menjadi sarana untuk mengisi kekosongan emosional tersebut. 

Mereka memandang jumlah like bukan hanya sebagai angka, tetapi sebagai tolok ukur keberhargaan diri.

Lebih jauh lagi, para ahli mencatat bahwa kebiasaan ini dapat menciptakan siklus adiktif. 

Ketika seseorang menerima banyak like, otak mereka melepaskan dopamin, zat kimia yang menciptakan rasa senang. 

Namun, rasa senang ini bersifat sementara, sehingga mereka terus-menerus mencari lebih banyak validasi melalui unggahan baru. 

Tanpa sadar, mereka mengaitkan harga diri mereka dengan jumlah like yang diperoleh, yang pada akhirnya membuat mereka semakin bergantung pada validasi eksternal.

2. Takut Ketinggalan (FOMO)

Fear of Missing Out (FOMO) adalah fenomena psikologis yang sangat umum di era digital

Orang yang terobsesi dengan jumlah like sering kali juga mengalami FOMO, yaitu ketakutan akan ketinggalan informasi, tren, atau momen penting yang sedang terjadi di media sosial. 

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore