
Ilustrasi orang tua yang mengajarkan anak kejujuran. (Pexels)
JawaPos.com – Kejujuran adalah salah satu sifat terpenting yang dapat kita tanamkan pada anak-anak kita, tetapi menciptakan lingkungan yang menumbuhkan kejujuran memerlukan usaha yang sungguh-sungguh.
Anak-anak secara alamiah jeli dan belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dan rasakan di rumah daripada apa yang dikatakan kepada mereka. Perilaku atau praktik tertentu di rumah lebih berdampak pada perilaku anak ke depannya.
Dilansir dari Times of India, perilaku menunjukkan ajaran yang kuat terhadap anak, sehingga anak lebih mudah mengadopsi apa yang mereka lihat. Maka, hindari perilaku ini jika kita ingin anak-anak menjadi orang yang jujur.
1. Jangan ajarkan disiplin dengan rasa takut
Ketakutan bisa menjadi pencegah sesuatu hal yang tidak diinginkan, tetapi ketika ketakutan digunakan untuk menegakkan kedisiplinan, hasilnya bisa berdampak sebaliknya kepada perilaku anak.
Jika kejujuran disamakan dengan hukuman, maka anak-anak akan cenderung menyembunyikan kebenaran karena berusaha menghindari konsekuensi yang berat.
Tindakan ancaman, mengajarkan anak-anak untuk takut pada reaksi kita sebagai orang tua daripada memiliki untuk berkata jujur. Daripada menakut-nakuti anak-ana, bantulah mereka untuk merasa nyaman mengakui kesalahan.
Cobalah untuk menjelaskan kepada anak-anak apa yang salah, mengapa itu salah, dan bagaimana mereka dapat menghindari untuk melakukan kesalahan yang sama. Sebagai orang tua kita perlu membangun dialog daripada rasa takut.
2. Jangan menetapkan standar kesempurnaan terlalu tinggi
Menetapkan standar yang sangat tinggi dapat menekan anak untuk berbohong demi memenuhi harapan orang tua mereka. Ketika anak merasa harus selalu unggul dalam segala bidang, mereka mungkin akan berbohong agar tidak mengecewakan orang tua mereka.
Kita sebagai orang tua perlu melakukan pendekatan yang lebih sehat, sehingga mendorong usaha dan kemajuan daripada kesempurnaan. Hargai kerja keras mereka, meskipun hasilnya tidak sempurna.
Beritahu mereka bahwa membuat kesalahan adalah bagian dari pembelajaran dan pertumbuhan. Keterbukaan ini menunjukkan kepercayaan dan meyakinkan mereka bahwa bersikap jujur tidak akan berpengaruh pada kasih sayang kita sebagai orang tua.
3. Jangan ganggu privasi anak
Sama halnya seperti orang dewasa, anak-anak membutuhkan privasi untuk mereka sendiri. Ketika orang tua terlalu berlebihan memantau aktivitas anak-anak mereka, hal itu dapat membuat anak-anak merasa tidak dipercaya.
Dalam lingkungan keluarga seperti itu, anak-anak mungkin menyembunyikan sesuatu atau berbohong untuk melindungi rasa kemandirian mereka. menghormati batasan anak kita tidak berarti memberi mereka kebebasan penuh, tetapi keseimbangan antara pengawasan dan kepercayaan.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
