Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 9 Desember 2024 | 01.52 WIB

Orang yang Dipaksa Menikah oleh Orang Tuanya, Sering Menunjukkan 8 Perilaku Ini dalam Hubungannya

Ilustrasi orang yang dipaksa menikah oleh orang tuanya. (freepik.com/freepik) - Image

Ilustrasi orang yang dipaksa menikah oleh orang tuanya. (freepik.com/freepik)

JawaPos.com - Setiap orang tua pasti ingin menyaksikan anaknya menikah bahagia, menjalani hidup dengan pasangan dan juga keturunannya. Sehingga akhirnya, beberapa dari mereka ada yang memaksa anaknya untuk menikah dengan siapapun.

Mengutip dari laman Klik Dokter pada (08/12) mengungkapkan bahwa orang tua seperti itu tidak mau mendengar apapun alasan anak ketika belum juga menikah, entah itu soal kriteria, kecocokan, atau perihal kesiapan.

Tentunya hal ini menjadi dilema antara tetap mengikuti keinginan sendiri atau berbakti pada orang tua, dilansir dari laman Blog Herald pada (08/12) orang yang dipaksa menikah oleh orang tuanya, sering menunjukkan 8 perilaku ini dalam hubungannya :

1. Menutupi emosi yang sebenarnya

Emosi adalah perjalanan roller coaster. Mereka melonjak tanpa peringatan, menelan kita dalam arusnya, dan tidak selalu mudah untuk melepaskannya. Sesuatu yang bisa kita lakukan hanyalah menguatkan diri dan menaiki ombak hingga reda.

Mereka yang dipaksa menikah oleh orang tuanya, sering kali terampil menyembunyikan perasaan sebenarnya, dan menjadi ahli dalam penyamaran. Sebenarnya itu bukan salah mereka, melainkan sebuah mekanisme bertahan hidup.

Mereka tersenyum ketika diharapkan, tertawa pada saat yang tepat, dan menunjukkan kegembiraan ketika situasi menuntutnya.

2. Mencari validasi

Kita semua mendambakan validasi, seperti sebuah tepukan di punggung atau kata pujian, sudah menjadi sifat manusia untuk mencari pengakuan atas tindakan dan pilihan.

Tapi bagi mereka yang dipaksa menikah, kebutuhan akan pengakuan ini bisa menjadi semakin besar. Setiap keputusan yang diambilnya selalu mencari persetujuan dari pasangan, mertua, dan orang tuanya sendiri.

Orang yang dipaksa menikah, terus-menerus bertanya tentang perilakunya karena banyak ketakutan jika itu tidak sesuai ekspektasi keluarganya.

3. Menghindari konfrontasi

Dalam hubungan apapun, perselisihan tidak bisa dihindari. Tapi bagi mereka yang dipaksa untuk menikah, konfrontasi bisa menjadi tantangan tersendiri. Mereka sering kali menggunakan strategi penghindaran untuk menjaga perdamaian, memilih untuk menyembunyikan masalah daripada menanganinya secara langsung.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di National Institutes of Health, individu yang merasa terpojok dalam suatu hubungan lebih cenderung menghindari konfrontasi demi menjaga keharmonisan.

4. Kompensasi yang berlebihan dalam sebuah peran

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore