Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 15 November 2024 | 23.15 WIB

Menguak Rasa Iri Seseorang di Media Sosial Menurut Psikologi: Lahirkan Kebencian hingga Krisis Harga Diri

Ilustrasi rasa iri (Freepik) - Image

Ilustrasi rasa iri (Freepik)


JawaPos.com- Apakah Anda sering memantau saudara Anda, atau mantan kekasih Anda? Apakah foto-foto kehidupan sosial mereka, atau kebahagiaan mereka membuat dahi Anda mengkerut dan perut Anda menegang? 

Namun, terkadang media sosial seperti mata pisau. Di satu sisi Anda merasa bahagia dengan kebahagiaan mereka, disisi lain membuat Anda merasakan hal tertentu yakni rasa iri dan dengki.

Dikutip oleh JawaPos.com, Jumat (15/11) di laman truity.com, menurut Dr Maureen Coyle PhD seorang psikolog sosial terapan, rasa iri terhadap media sosial yaitu tindakan perbandingan sosial.

Itu terjadi ketika Anda membandingkan diri Anda dengan orang-orang yang Ansa anggap lebih baik dari diri Anda dalam beberapa hal.

Karena Anda sudah menganggap orang itu lebih baik dari Anda, membandingkan hidup Anda dengan mereka akan membuat Anda merasa tidak mampu.

Itulah sebabnya mengapa sekadar menggulir media sosial dapat membuat Anda merasa kurang menarik, kurang percaya diri, kurang populer, kurang layak diunggah di Instagram, dan kurang mampu mempertahankan kehidupan sosial yang Anda rasa kurang. 

Anda tahu Anda memiliki rasa iri terhadap media sosial. Saat Anda melihat siapapun itu atau Anda melihat orang yang lebih baik dari Anda membuat Anda merasa tidak bahagia dengan diri sendiri atau hidup Anda.

Saat Anda melihat bagaimana orang lain memiliki rumah, pekerjaan, liburan, keterampilan kreatif, bibir, penampilan, tubuh, persahabatan, pengikut, komentar seperti yang Anda inginkan, namun tidak bisa Anda miliki.

Selain itu, indikator lainnya termasuk kebencian, FOMO (rasa takut ketinggalan) dan kepahitan terhadap keberuntungan orang lain. Tiga emosi ini dapat membuat Anda merasa tidak cukup baik atau kehilangan makna hidup. 

Iri hati merupakan sebuah emosi yang rumit. Sementara sebagian orang menganggapnya sebagai motivator positif untuk berubah, memperbaiki diri, dan menjadi lebih baik, sebagian lainnya.

Coyle, percaya bahwa akar penyebabnya adalah harga diri yang rendah. Dalam cengkeraman rasa iri, orang-orang merasa harga diri mereka rendah.

"Kita tidak yakin pada diri sendiri, yang dapat menyebabkan kita melihat semua hal negatif dalam diri kita dan mengabaikan hal negatif pada orang lain," jelas Coyle.

Sementara itu, Dr Patrick Wanis PhD selaku pakar perilaku manusia, berbicara tentang rasa iri yang merupakan masalah universal, bukan jenis pandangan diri yang spesifik.

“Setiap orang dari kita menderita masalah inti yang sama yakni di tingkat bawah sadar, Anda merasa tidak cukup baik. Anda merasa ada yang salah dengan diri Anda, Anda tidak berharga, Anda tidak layak dicintai, Anda tidak istimewa, Anda tidak mampu, Anda takut ditinggalkan, Anda takut ditolak,”katanya.

Wanis, yang berfokus pada penyembuhan trauma dalam praktiknya berpendapat, bahwa setiap orang telah diprogram dengan perasaan iri dan tidak merasa cukup baik melalui peristiwa-peristiwa sulit dalam hidup mereka.

Fenomena ini bisa sama klisenya dengan orang tua Anda yang selalu membandingkan Anda dengan saudara kandung Anda.

Kedengarannya biasa saja, tetapi skenario seperti ini dapat membuat perbandingan di media sosial menjadi jauh lebih intens, karena Anda belajar membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore