
Ilustrasi orang yang terluka di masa lalu dan trust issue di hubungan barunya. (Freepik)
JawaPos.com - Di antara kita ada saja orang yang memiliki masa lalu menyakitkan dan membuat hatinya terluka oleh seseorang, entah karena dikhianati, dibohongi, dan ditinggalkan begitu saja. Butuh waktu bagi mereka untuk membasuh luka itu dan berusaha keras agar bisa memulai hidup kembali dengan orang baru, suasana baru, dan hubungan yang baru.
Tapi faktanya, orang yang sangat terluka di masa lalu tidak bisa sepenuhnya percaya. Melansir dari laman Baseline Mag, secara tak sadar, mereka sering menunjukkan 8 perilaku ini dalam hubungan barunya :
1. Selalu waspada
Bukan rahasia lagi bahwa disakiti di masa lalu membuat mereka khawatir akan disakiti lagi. Kewaspadaan ini sering terwujud dalam hubungan barunya dan selalu ada ide untuk mencegah potensi patah hati.
Meskipun rasa waspada ini dapat melindungi dari potensi bahaya, tapi juga bisa menghalangi mereka untuk mengalami keintiman dalam suatu hubungan.
2. Berjuang dengan kepercayaan
Jika ada orang yang terluka di masa lalu, seringkali sulit membangun kepercayaan dalam hubungan barunya. Meskipun tak memberikan alasan yang meragukan, tapi hatinya selalu gelisah.
Kepercayaan ini menjadi sebuah gunung besar yang harus didaki karena mereka takut dikhianati dan dikecewakan lagi.
3. Menganalisis segalanya secara berlebihan
Di zaman modern, sifat ini sering kali membuat kita menganalisis situasi secara berlebihan, terutama saat merasa cemas atau takut. Dalam hubungan, orang-orang yang pernah terluka di masa lalu mungkin terlalu menganalisis setiap kata, tindakan, atau ketiadaan kata-kata dari pasangannya.
Mereka terus-menerus mencari tanda-tanda masalah atau pengkhianatan, meskipun sebenarnya tidak ada. Ini bisa melelahkan bagi mereka dan membebani hubungan.
4. Menghindari konflik
Konflik bisa jadi sulit bagi siapa pun, tapi bagi mereka yang pernah sangat terluka di masa lalu, hal ini bisa sangat menakutkan. Mereka mungkin mengasosiasikannya dengan kepedihan akibat pertengkaran atau perselisihan di masa lalu yang menyebabkan tekanan emosional.
Akibatnya, mereka cenderung menghindari konflik dengan cara apapun. Hal ini bisa berarti membiarkan masalah memburuk atau menyetujui hal-hal yang tidak mereka sukai, hanya untuk menjaga perdamaian.
Memahami perilaku ini dan menciptakan ruang aman untuk dialog terbuka dapat membantu mereka mengatasi ketakutan ini dan membangun dinamika hubungan yang lebih sehat.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
