Ilustrasi anak kecanduan media sosial/freepik.com
JawaPos.com - Sebagian besar aplikasi media sosial mensyaratkan pengguna berusia minimal 13 tahun. Akan tetapi, menurut Dokter Umum AS, hampir 40% anak usia 8 hingga 12 tahun dan 95% anak usia 13 hingga 17 tahun telah menggunakan media sosial.
Dokter Bedah Umum AS bahkan mengeluarkan peringatan tentang dampak media sosial terhadap kesehatan mental anak dan remaja. Salah satu fakta mencemaskan adalah remaja yang menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di media sosial yang punya dua kali lipat risiko mengalami depresi dan kecemasan.
Jika anakmu memakai media sosial, kamu perlu berdiskusi dengan mereka mengenai media sosial, aturan yang berlaku, dan kenyataan bahwa media sosial tidak selalu mencerminkan kehidupan yang sebenarnya. Melansir health.
1. Kekhawatiran terhadap diri
Dunia digital, terutama media sosial, telah mengubah cara kita melihat diri sendiri. Akses mudah ke berbagai aplikasi menciptakan fokus pada penampilan fisik yang sering menjadi sumber perhatian utama. Pemakaian media sosial yang berlebihan, terutama di kalangan remaja, bisa menimbulkan masalah kesehatan mental seperti ketidakpuasan tubuh.
Penelitian menunjukkan bahwa waktu berlebihan di media sosial berhubungan dengan penurunan rasa percaya diri, gangguan makan, dan perasaan tidak puas terhadap penampilan. Fenomena ini lebih terlihat pada remaja putri, dengan hampir 50% merasa kurang percaya diri usai menggunakan media sosial.
Dr. Eshleman menjelaskan bahwa kemajuan teknologi mempermudah orang dalam mengedit foto mereka hingga tampak sempurna. Citra ideal yang tidak realistis ini membentuk standar yang sulit dicapai, dan perbandingan sosial yang berlebihan bisa memicu kecemasan, rendah diri, bahkan depresi.
2. Perundungan dunia maya
Kita sering mendengar mengenai penindasan di sekolah, tetapi perundungan di dunia maya terjadi melalui teknologi dan media sosial, bahkan sangat umum. Konten berbahaya seperti bahasa, gambar, dan video yang menghina banyak tersebar, dengan 64% remaja melaporkan terpapar konten kebencian.
Dr. Eshleman menyatakan bahwa perundungan siber sulit dihindari karena terus ada, bahkan lebih cepat menyebar, hingga membuat dampak negatifnya terasa lebih luas dan lebih jauh melampaui lingkaran sosial seseorang.
3. Predator daring
Sayangnya, ada orang di media sosial yang menargetkan anak-anak dan remaja untuk tujuan eksploitasi, pemerasan finansial, atau perdagangan obat terlarang. Anak-anak dan remaja sering kesulitan mengetahui apa yang aman dibagikan pada media sosial.
Statistik mengkhawatirkan menunjukkan hampir 60% gadis remaja telah dihubungi orang asing di media sosial dengan cara yang memicu kecemasan atau rasa tidak aman. Interaksi ini sering melibatkan perilaku yang tidak diharapakan, maka kesadaran terhadap risiko dunia maya menjadi penting, terutama bagi remaja yang sedang berkembang.
Dr. Eshleman menyarankan orang tua supaya berbicara dengan anak-anak mereka tentang bahaya ini. Orang tua bisa mengajarkan mereka apa yang harus diwaspadai dan memperingatkan agar tidak berbagi informasi dengan orang yang tidak dikenal secara pribadi.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
