Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 November 2024 | 04.23 WIB

Mengenal Self Psychology Menurut Psikolog: Kegunaan, Metode, dan Hubungannya dengan Narsisme

Ilustrasi seorang psikolog dan kliennya  - Image

Ilustrasi seorang psikolog dan kliennya 

JawaPos.com - Entah mengapa, kesehatan mental tidak begitu diperhatikan oleh masyarakat Indonesia. Apabila orang-orang mengetahui kita mengunjungi atau bahkan membutuhkan bantuan psikolog atau psikiater, mereka akan mengira kita sudah gila atau tidak normal.

Karena itu, pada kebanyakan kasus gangguan atau penyakit mental yang tak terlihat, banyak yang tidak ditangani dengan baik.

Untuk menghindari diskriminasi atas kondisi mental ini, banyak orang mulai mencari cara untuk menyembuhkan diri mereka masing-masing melalui self psychology.

Dilansir dari laman Better Help, self psychology atau psikologi diri adalah teori di bidang psikoanalisa yang berpusat pada empati, pertumbuhan, dan perkembangan individu yang sehat.

Metode ini juga sudah sering digunakan sebagai terapi, dimana klien-klien diminta untuk melihat kembali apa saja yang sudah ia alami dari kecil hingga sekarang.

Dalam eksplorasi diri seperti ini, klien dapat melihat dan belajar lebih dalam mengenai diri mereka sendiri dan menemukan cara untuk memperbaiki diri sesuai dengan keinginan mereka.

Dilansir dari Good Therapy, psikologi diri ini juga merupakan cabang dari teori psikoanalisa Sigmund Freud yang terbentuk dari banyak fondasi psikoanalisis kontemporer sebagai gerakan psikoanalisis pertama yang mengakui empati sebagai aspek penting dalam terapi.

Psikologi diri diperkenalkan oleh Heinz Kohut dalam bukunya The Analysis of the Self pada tahun 1970an.

Dalam metode psikologi diri, objektivasi diri menjadi penyangga utama pada saat klien merasa tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Seseorang yang kurang percaya diri akan bergantung pada orang lain untuk memberi diri mereka sebuah dorongan.

Disini klien menjadi sesuatu bagi diri klien agar mereka dapat merasa rasa dukungan atau kepemilikan untuk menghadapi ketidakpastian.

Transferensi juga digunakan dalam metode ini, karena dipahami sebagai proses dimana seseorang mengalihkan perasaan dan keinginan dari masa kecil ke objek baru.

Kohut memformulasi tiga tipe transferensi:

Mirroring

Pada metode ini klien menciptakan seseorang sebagai cermin yang memberikan sensasi kepercayaan diri dan harga diri yang lebih tinggi.

Sama seperti kita menggunakan cermin untuk memeriksa penampilan kita pada cermin, transferensi mirroring memanfaatkan ketegasan atau kepastian dan respon positif dari orang lain dalam diri sendiri.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore