Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 November 2024 | 01.52 WIB

Jangan Sampai Salah! Ini 7 Perbedaan Orang Berpikir Kritis dan Overthinking yang Perlu Diketahui

Ilustrasi orang berpikir kritis (jcomp/freepik.com) - Image

Ilustrasi orang berpikir kritis (jcomp/freepik.com)

JawaPos.com - Sejak kecil hingga dewasa, kita selalu diajarkan untuk menjadi pemikir kritis, memeriksa segala sesuatu dengan teliti dan objektif agar bisa membuat keputusan yang lebih baik. Oleh sebab itu, adakalanya orang menanggapi berbagai hal secara serius.

Selain itu, mereka juga merenungkan masalah secara mendalam dan memeriksa setiap aspek dengan seksama.

Tidak hanya sampai di situ, mereka mungkin juga sering kali berlebihan dalam menganalisis segalanya.

Mereka mungkin telah melewati batas dari berpikir kritis ke over thinking dan ini bisa berbahaya serta tidak produktif. Mengutip hackspirit.com, berikut ini beberapa perbedaan orang berpikir kritis dan overthinking.

1. Tujuan

Orang yang berpikir kritis memiliki tujuan yang jelas, sementara orang overthinking tidak mempunyai arah yang pasti.

Ketika kamu seorang pemikir kritis dan duduk untuk merenungkan suatu masalah, kamu punya misi dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Menurut para peneliti, pemikir kritis menggunakan berbagai teknik dalam menentukan tindakan, seperti memahami hubungan antar ide, menentukan relevansi ide, mengidentifikasi kesalahan dalam penalaran, membenarkan asumsi, nilai, dan keyakinan, serta mengakui keterbatasan pribadi.

Di sisi lain, jika kamu terlalu banyak berpikir, maka bisa kehilangan fokus dan terjebak dalam siklus pikiran negatif. Kamu akan terus-menerus khawatir dan berjuang untuk memahami situasi.

Proses berpikirmu akan menjadi kacau yang menunjukkan bahwa kamu telah kehilangan tujuan dalam hidup.

2. Fokus

Tidak dapat disangkal bahwa tujuan hidupmu sangat memengaruhi dirimu untuk fokus. Berpikir kritis mempunyai fokus yang jelas, sementara berpikir berlebihan bersifat kacau dan tidak terarah.

Orang overthinking tampak sebagai kumpulan pikiran dan emosi yang tidak terkendali. Mereka akan mulai memikirkan suatu situasi, lalu beralih ke hal-hal yang kurang relevan, beberapa di antaranya mungkin tidak ada hubungannya dengan masalah yang sedang dihadapi.

Kamu hanya melompat dari satu pikiran ke pikiran lain, seperti monyet yang berayun dari dahan ke dahan. Tidak mengherankan jika otak yang terlalu banyak berpikir sering disamakan dengan istilah monkey mind.

Namun, seperti yang telah dijelaskan bahwa berpikir kritis lebih terstruktur. Meskipun melibatkan berbagai jalur dan tidak selalu linier, berpikir kritis punya tujuan tunggal yaitu menemukan jawaban atau memecahkan masalah yang membantumu tetap fokus.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore