Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 2 November 2024 | 06.55 WIB

Menurut Psikologi, Ini Dampak dan Cara Mengatasi Silent Treatment yang Mampu Merusak Kesehatan Mental Korban

Ilustrasi silent treatment (rawpixel.com/freepik.com) - Image

Ilustrasi silent treatment (rawpixel.com/freepik.com)

JawaPos.com - Sebagai manusia, kita menginginkan hubungan yang memberikan dukungan, perhatian, dan pengakuan.

Selain itu, kita juga berharap pasangan dapat hadir untuk memenuhi kebutuhan ini.

Sayangnya, silent treatment tidak akan memenuhi harapan tersebut dan justru mencerminkan penolakan serta pengabaian emosional.

Silent treatment merupakan bentuk agresi pasif yang menyakitkan. Selain itu, praktik silent treatment pada orang dewasa biasanya berhubungan dengan pengalaman serupa dari orang tua, serta dapat berkaitan dengan rendahnya harga diri.

Dikutip dari psychologytoday.com, berikut ini dampak dan cara mengatasi silent treatment menurut psikologi.

Dampak dari Silent Treatment

Silent treatment jelas menciptakan keadaan yang penuh kecemasan, ketakutan, dan kesedihan yang mengganggu rasa aman.

Hal ini berpotensi menyebabkan ketidakbahagiaan dan kerusakan psikologis yang sering kali meningkatkan konflik dalam hubungan.

Seseorang yang mengalami perlakuan ini bisa merasa marah, ditinggalkan, ditolak, dan tertekan.

Dalam sebuah penelitian terhadap 581 pasangan, ditemukan bahwa pasangan melaporkan tingkat kepuasan yang jauh lebih rendah ketika pasangan mereka menggunakan komunikasi emosional yang terputus.

Keengganan berkomunikasi semacam itu juga terbukti menjadi pemicu kuat bagi perasaan terasing, penurunan harga diri, dan nilai relasional yang lebih rendah, serta hal yang buruk di mana ini bisa meningkatkan untuk bertindak agresif terhadap pasangan.

Selain itu, korban silent treatment umumnya akan merasa ragu dan menyalahkan diri sendiri, bahkan dapat memicu kritik diri yang negatif. Mereka mungkin terobsesi melakukannya sebagai cara untuk mengakhiri keheningan tersebut.

Menjadi sasaran perlakuan diam merupakan tantangan bagi siapa pun, namun hal ini khususnya sulit bagi orang dengan harga diri rendah atau yang memiliki keterikatan cemas.

Pola ini mencakup ketakutan terhadap stabilitas dan ketergantungan dalam hubungan yang semakin diperburuk oleh perlakuan diam.

Orang tersebut mungkin lebih cepat merasakan penolakan yang intens dan perasaan takut akan terjadinya kehilangan. Keheningan semacam ini dirasakan sebagai pengkhianatan dan pengabaian.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore