Pria yang tetap tajam secara kognitif dan perseptif seiring bertambahnya usia biasanya mengadopsi 6 perilaku halus ini (pixabay)
JawaPos.com - Baik dalam hubungan pribadi maupun kehidupan profesional, cara anda menampilkan diri bisa membuat anda dihormati atau merusak kredibilitas.
Jika ingin orang menganggap anda serius dalam hidup, tindakan dan perilaku anda berbicara lebih keras daripada kata-kata. Cara anda membawa diri dalam setiap situasi memainkan peran penting, lebih dari sekadar apa yang anda katakan atau penampilan anda.
Sayangnya, beberapa perilaku dapat secara diam-diam mengikis cara orang lain memandang anda, sehingga membuat mereka lebih sulit untuk menganggap anda serius. Anda mungkin tidak menyadarinya, tetapi kebiasaan-kebiasaan ini dapat mengirimkan pesan yang salah.
Dalam artikel ini, saya akan menunjukkan empat perilaku yang harus dihindari jika anda ingin mendapatkan rasa hormat dan kredibilitas.
Dengan mengidentifikasi dan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan ini, anda akan lebih siap untuk mendapatkan rasa hormat dan perhatian yang layak anda dapatkan. Berikut empat perilakunya, dikutip dari ideapod:
1) Terus mencari validasi
Dalam dunia pertumbuhan dan kesuksesan pribadi, ada satu perilaku yang menonjol sebagai penghalang utama, terus-menerus mencari validasi.
Ini adalah kecenderungan alami manusia untuk mencari persetujuan. Kita ingin disukai dan diterima. Namun, jika hal ini berlebihan, hal ini dapat menggambarkan anda sebagai seseorang yang kurang percaya diri dan kurang menghargai diri sendiri.
Pikirkanlah tentang hal ini. Jika anda selalu mencari orang lain untuk memvalidasi setiap langkah anda, bagaimana mereka bisa menganggap anda serius? Hal ini menandakan bahwa anda tidak mempercayai penilaian anda sendiri dan selalu membutuhkan kepastian.
Untuk dianggap serius, kuncinya adalah anda harus mengembangkan kepercayaan pada kemampuan Anda sendiri. Tentu saja, umpan balik yang membangun itu penting untuk dikembangkan, namun jangan biarkan rasa harga diri anda hanya bergantung pada umpan balik tersebut.
2) Penundaan
Inilah perilaku yang secara pribadi saya perjuangkan, penundaan. Dulu saya adalah seorang penunda yang kronis, selalu menunda-nunda pekerjaan sampai menit terakhir. Bukan karena saya malas atau tidak peduli, tetapi saya memiliki kebiasaan menunda tugas yang sudah mendarah daging. Hasilnya? Saya selalu terburu-buru untuk memenuhi tenggat waktu, tidak menyisakan ruang untuk revisi atau perbaikan.
Suatu hari, seorang rekan kerja menarik saya ke samping dan memberi saya kebenaran yang keras: “Pekerjaan anda sudah bagus, tetapi bisa menjadi lebih baik. Kalau saja kamu mau berhenti menunda-nunda dan memberikan waktu yang kamu butuhkan.”

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
