Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 30 Agustus 2024 | 20.15 WIB

Bak Sosok Bermuka Dua, Simak Kepribadian Orang Sering Oversharing antara di Media Sosial Twitter dan Instagram

kepribadian orang di Twitter dan Instagram (Hack Spirit) - Image

kepribadian orang di Twitter dan Instagram (Hack Spirit)

JawaPos.com - Oversharing di media sosial memang menjadi trend bagi masyarakat modern kini. Sebab mereka bisa mengungkapkan perasaan mereka melalui beberapa platform media sosial, seperti instagram, twitter, facebook atau bahkan lainnya.

Orang-orang bisa dengan mudah oversharing kebahagiaan mereka melalui video reels, foto ataupun lainnya di media sosial. Bisa jadi tujuannya untuk edukasi. Namun hal ini juga dapat dimaknai berbeda ketika seseorang memposting sesuatu karena ada perasaan dendam dengan seseorang.

Ternyata maksud dan tujuan dari mengapa orang terlalu oversharing merupakan hal yang kompleks, bukanlah paten. Lantas mengapa jika dilihat dari media sosial seseorang mereka dapat memposting hal-hal yang berbeda di setiap platformnya? Seperti halnya di Twitter dengan Instagram miliknya.

Di Twitter orang lebih berperilaku apa adanya dibanding dengan platform lainnya seperti instagram, atau bahkan orang cenderung mengungkapkan ujaran kebencian hingga curhat permasalahan hidupnya di Twitter. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Menurut vice.com yang dikutip oleh JawaPos.com, Jumat (30/8) instagram pernh menjadi platform media sosial yang paling ceria dan optimis. Sebab orang-orang selalu membagikan aktivitas keseharian yang paling bahagia dan mewah.

Lalu orang-orang beralih ke Twitter untuk mengejek, seperti halnya mengejek penghargaan atau debat presiden secara langsung. Jika orang tersebut dapat melakukan hal seperti ini, bisa jadi mereka mengungkapkan jati diri mereka yang sebenarnya.

“Instagram dirancang untuk benar-benar membuat hidup Anda terlihat lebih baik melalui filter yang menambah realitas dari apa yang Anda alami dan orang-orang yang memposting dengan hati-hati yang benar-benar berkembang di sana,” jelas Alana Massey, penulis esai populer All the Lives I Want.

“Inti dari posting Instagram adalah bahwa mereka menggoda: snapshot tersingkat dari tempat liburan atau makanan yang terang benderang atau bahkan kucing Anda terlihat bagus,”imbuhnya.

Justru ini berbeda dengan Twitter, orang-orang sering menunjukkan apa yang menjadi unek-uneknya melalui kata-kata bahkan foto atau video tentang dirinya dan permasalahannya.

Namun perkembangan Instagram kini sangat pesat. Orang bisa membagikan Instastory mereka yang hanya bertahan selama 24 jam. Orang pun bisa memposting perasaan negatifnya ke instastory yang tak berlaku lama.

Salah satu pemanfaatan instastory ini berasal dari salah satu cerita selebritas Instagram Caroline Calloway menjadi viral karena caption romantis tentang kuliah di luar negeri di University of Cambridge, tetapi setelah ia dan pacarnya yang berasal dari Eropa putus, ia menggunakan Stories untuk mengungkapkan perasaannya.

"Saya membuat pengalaman hidup saya lebih bermakna bagi diri saya sendiri dengan mengubahnya menjadi karya seni yang bermakna bagi orang lain," jelasnya kepada Broadly.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore