Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 Agustus 2024 | 23.34 WIB

Menurut Ilmu Perilaku, Orang yang Mudah Tertipu oleh Berita Hoax dan Misinformasi Memiliki 7 Ciri Unik Berikut

Ilustrasi perempuan yang mudah percaya dengan berita palsu (freepik) - Image

Ilustrasi perempuan yang mudah percaya dengan berita palsu (freepik)

JawaPos.com – Misinformasi dan berita palsu atau hoax menjadi isu besar yang tentu saja kita pernah melihat orang-orang yang dengan mudah memercayai hal tersebut.

Misalnya di media sosial yang dipenuhi dengan foto luar biasa yang dihasilkan dari AI dan diyakini oleh ribuan orang bahkan jutaan orang sebagai nyata.

Ilmu perilaku mengungkapkan bahwa ada ciri-ciri tertentu yang membuat sebagian orang cenderung mempercayai berita palsu sebagaimana dilansir dari laman Global English Editing, Selasa (20/8) sebagai berikut :

1. Tingkat kepercayaan diri yang tinggi

Ilmu perilaku menunjukkan bahwa orang yang mudah percaya berita palsu sering kali menunjukkan rasa bangga yang berlebihan terhadap pengetahuan dan kemampuan mereka sendiri.

Rasa percaya diri yang berlebihan ini dapat membuat mereka lebih rentan terhadap misinformasi sebab mereka tidak merasa perlu untuk memverifikasi informasi yang mereka terima.

Jadi, lain kali Anda menemukan berita yang kedengarannya terlalu bagus untuk menjadi kenyataan maka luangkan waktu untuk memeriksa keasliannya.

2. Kerentanan terhadap biasa konfirmasi

Bias konfirmasi adalah kecenderungan kita untuk mencari dan memercayai informasi yang sejalan dengan keyakinan kita saat ini sambil mengabaikan atau mendiskreditkan apa pun yang bertentangan dengan keyakinan tersebut.

Pasalnya bias konfirmasi dapat membuat kita lebih rentan terhadap misinformasi dan berita palsu. Ini adalah perangkat yang mudah untuk dijebak terutama di era digital ini dimana informasi dapat diperoleh hanya dengan sekali klik.

3. Tingkat literasi digital yang rendah

Pada dasarnya kemampuan kita untuk menjelajahi dunia digital memiliki dampak besar pada kerentanan kita terhadap misinformasi dan berita palsu.

Ilmu perilaku menunjukkan bahwa orang dengan tingkat literasi digital yang rendah yaitu kemampuan mereka menemukan, mengevaluasi dan menggunakan informasi dalam lingkungan digital menjadi lebih cenderung mempercayai berita palsu.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Sekolah Pascasarjana Pendidikan Stanford menemukan bahwa lebih dari 80 persen siswa sekolah menengah tidak dapat membedakan antara konten sponsor dan berita nyata.

4. Kebutuhan untuk penutupan kognitif

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore