JawaPos.com - Keluarga adalah tempat pertama di mana seseorang belajar tentang dunia dan dirinya sendiri.
Pengalaman masa kecil, terutama yang terjadi di lingkungan keluarga, sangat mempengaruhi perkembangan pribadi dan psikologis seseorang.
Ketika seseorang tumbuh dalam keluarga yang disfungsional, dampak dari pengalaman ini dapat terasa hingga dewasa.
Dilansir dari Ideapod pada Rabu (24/7), terdapat tujuh ciri yang sering ditampilkan oleh orang-orang yang tumbuh dalam keluarga disfungsional di kemudian hari.
1. Kesulitan dalam Membentuk dan Mempertahankan Hubungan
Orang yang tumbuh dalam keluarga disfungsional sering menghadapi tantangan dalam membentuk dan mempertahankan hubungan yang sehat.
Mereka mungkin merasa sulit untuk mempercayai orang lain, cenderung memiliki ekspektasi yang tidak realistis, atau takut akan keintiman.
Ketidakstabilan emosional dan konflik yang mereka saksikan di rumah seringkali membuat mereka merasa tidak yakin tentang bagaimana menjalin hubungan yang stabil dan memuaskan.
2. Harga Diri yang Rendah
Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang disfungsional sering menginternalisasi pesan-pesan negatif yang mereka terima selama masa kecil.
Kritik yang berlebihan, kurangnya dukungan, atau pelecehan emosional dapat menyebabkan harga diri yang rendah.
Mereka mungkin merasa tidak berharga atau tidak cukup baik, dan perasaan ini bisa berlanjut hingga dewasa, mempengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk karier dan hubungan pribadi.
3. Kecenderungan untuk Menyalahkan Diri Sendiri
Anak-anak dari keluarga disfungsional sering merasa bertanggung jawab atas masalah yang terjadi di rumah.
Mereka mungkin mengembangkan perasaan bersalah yang berlebihan dan cenderung menyalahkan diri sendiri atas situasi di luar kendali mereka.
Kecenderungan ini bisa terbawa hingga dewasa, membuat mereka sulit untuk melihat situasi secara objektif dan sering merasa bersalah tanpa alasan yang jelas.
Orang yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan konflik atau kekerasan mungkin memiliki kesulitan dalam mengelola emosi mereka sendiri.
Mereka bisa menjadi sangat reaktif, mudah marah, atau justru menarik diri dan menekan perasaan mereka.
Ketidakmampuan untuk mengelola emosi dengan sehat ini dapat mempengaruhi hubungan interpersonal dan kesejahteraan emosional mereka secara keseluruhan.
5. Perilaku Menghindar
Banyak orang yang tumbuh dalam keluarga disfungsional mengembangkan mekanisme menghindar sebagai cara untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional.
Mereka mungkin menghindari konfrontasi, menolak untuk membicarakan masalah, atau bahkan menarik diri dari situasi yang memicu stres.
Perilaku menghindar ini bisa membuat mereka kesulitan untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan dewasa mereka.
Di keluarga disfungsional, ketidakpastian dan kurangnya kendali seringkali menjadi norma.
Sebagai hasilnya, orang yang tumbuh dalam lingkungan ini mungkin mengembangkan kebutuhan yang kuat untuk mengendalikan segala aspek kehidupan mereka.
Mereka mungkin merasa cemas jika sesuatu berada di luar kendali mereka dan cenderung menjadi perfeksionis atau obsesif dalam usaha mereka untuk menciptakan stabilitas.
7. Ketergantungan Emosional
Orang yang tumbuh dalam keluarga disfungsional sering merasa tidak aman dan mencari rasa aman melalui hubungan dengan orang lain.
Mereka mungkin menjadi sangat bergantung secara emosional pada pasangan, teman, atau anggota keluarga lainnya.
Ketergantungan ini bisa menyebabkan mereka mengalami kesulitan dalam berdiri sendiri dan membuat keputusan independen, karena mereka sangat membutuhkan persetujuan dan dukungan dari orang lain.
***