Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 April 2024 | 21.57 WIB

4 Alasan Mengapa Sensitivitas dan Kepekaan Harus Didefinisikan Ulang Sebagai Sifat Temperamental yang Alami dan Melekat

4 sensitivitas harus didefinisikan ulang sebagai sifat temperamental menjadi ciri-ciri kepribadian yang unik. (https://psychcentral.com/health/why-am-i-so-sensitive)

 
JawaPos.com – Para peneliti umumnya sepakat bahwa temperamen terbentuk lebih awal dalam kehidupan dibandingkan kepribadian, dan lebih didasarkan pada genetika dibandingkan faktor lingkungan. 
 
Dengan kata lain, temperamen lebih memilih alam dalam pembentukannya daripada melalui pengasuhan. Sementara itu, kepribadian berasal dari keduanya, mungkin dengan sedikit preferensi terhadap pengasuhan. 
 
Lebih lanjut, para peneliti juga cenderung setuju bahwa kepribadian berkembang dari temperamen alami seseorang. Namun faktanya, sensitivitas bukanlah hal yang muncul secara alami saat seseorang lahir.
 
 
Sensitivitas adalah suatu hal yang bisa dilatih. Dan hal ini menunjukkan bahwa hal itu bisa berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Namun, banyak orang menyalahpahami hal ini sebagai sifat temperamental bawaan.
 
Oleh sebab itu, sensitivitas harus didefinisikan ulang sebagai sifat temperamental menjadi ciri-ciri kepribadian yang unik. Berikut 4 alasannya yang dikutip dari , Kamis (11/4).
 
1. Sensitivitas berbeda dengan sifat 5 Besar
 
Meskipun sensitivitas berkorelasi dengan neurotisme, keduanya berulang kali terbukti berbeda. Faktanya, dalam sebuah penelitian awal, para peneliti menggunakan tujuh rangkaian tes kepribadian untuk dapat mengetahui sensitivitas dari masing-masing ciri 5 Besar, yakni Keterbukaan terhadap Pengalaman, kehati-hatian,
extraversion/kontinum, dan neurotisisme.
 
 
Demikian pula, dalam makalah yang lebih baru pada tahun 2020, para peneliti yang mencari teori sensitivitas terintegrasi melakukan serangkaian penelitian dan menegaskan kembali bahwa sensitivitas adalah ciri khasnya. 
 
Meski begitu, mereka mengatakan bahwa, “Perbedaan sensitivitas tidak sepenuhnya dijelaskan oleh lima ciri kepribadian yang umum.”. Dengan kata lain, skor seseorang dalam salah satu dari 5 Besar sifat tidak menentukan skor sensitivitasnya, menunjukkan bahwa itu adalah dimensi kepribadian yang unik. 
 
2. Sensitivitas tampaknya berubah seiring waktu
 
Salah satu perbedaan penting antara temperamen dan kepribadian adalah bahwa temperamen sebagian besar bersifat genetik, dan cenderung tetap sama seumur hidup. 
 
 
Sementara itu, kepribadian, meskipun memiliki komponen genetik, hal itu cenderung lebih banyak berubah sebagai respons terhadap pengalaman hidup. Berdasarkan standar tersebut, kepekaan atau sensitivitas tampaknya lebih sesuai dengan kepribadian daripada temperamen. 
 
Hal ini karena peneliti yang menggunakan studi kembar menunjukkan sensitivitas hanya 47 persen bersifat genetik dan 53 persen berdasarkan lingkungan dan pengalaman. 
 
Selain itu, mereka menemukan bahwa kepekaan atau sensitivitas cenderung lebih berguna di lingkungan tertentu dibandingkan lingkungan lainnya, dan orang-orang tampaknya “menyempurnakan” seberapa sensitif mereka berdasarkan lingkungan tempat mereka berada. 
 
 
Kami juga melihat hal serupa dalam penelitian di atas, ingat bagaimana ciri-ciri kepribadian yang berkorelasi dengan sensitivitas agak bervariasi pada anak-anak dibandingkan pada orang dewasa? Sifat-sifat tersebut, dan kepekaan itu sendiri, tampaknya berubah seiring berjalannya waktu, dan tidak selalu ke arah yang sama. 
 
3. Sensitivitas lebih cocok dengan definisi ciri kepribadian dibandingkan sifat temperamental
 
Meskipun mungkin ada beberapa indikator sensitivitas tinggi sejak awal kehidupan, tingkat sensitivitas seseorang kemungkinan besar akan terlihat pada saat yang bersamaan dengan ciri-ciri kepribadian lainnya, seperti ekstroversi dan keramahan, mulai berkembang dan menguat. 
 
Selain itu, kembali ke definisi kepribadian, kepekaan memengaruhi cara kita berpikir, merasakan, dan berperilaku pada tingkat yang sebanding dengan ciri-ciri kepribadian lainnya. 
 
 
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa, kepekaan atau sensitivitas merupakan bagian dari ciri-ciri kepribadian, dan bukan sifat temperamental yang bisa berdiri sendiri dan menetap.
 
4. Mendefinisikan ulang sensitivitas sebagai ciri kepribadian dapat bermanfaat, salah satunya dapat mengurangi rasa malu terhadap hal tersebut
 
Karena kepekaan telah lama disalahpahami oleh masyarakat, hal ini mengakibatkan banyak dari kita merasa malu karena memiliki kepekaan yang tinggi.
 
Mirip dengan bagaimana buku Susan Cain, Quiet, mendidik orang tentang introversi sebagai ciri kepribadian, jika kepekaan atau sensitivitas dipandang sebagai dimensi lain dari kepribadian, hal ini akan mengurangi stigma mengenai sifat sensitif, dan lebih banyak orang yang akan menerima sifat sensitif mereka. 
 
 
Lebih jauh lagi, jika sensitivitas lebih dikedepankan dalam diskusi seputar kepribadian, mungkin akan lebih banyak orang yang bisa mengetahui bahwa mereka juga merupakan seorang HSP lebih cepat. 

Editor: Nicolaus Ade
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore