
ilustrasi sukralosa. Sumber foto: Freepik
JawaPos.com - Saat kita memulai diet, hal pertama yang ingin kita hindari ialah gula rafinasi dan pilihan pertama yang terlintas dalam pikiran yaitu sukralosa.
Sukralosa membuat makanan lebih manis dibandingkan gula rafinasi, juga mengurangi asupan kalori.
Meskipun para ahli mengatakan pemanis ini aman, ada beberapa penelitian yang menunjukkan efek sampingnya.
Sukralosa, pemanis buatan tanpa kalori yang berasal dari sukrosa. Ini sekitar 600 kali lebih manis dari gula biasanya digunakan dalam berbagai produk makanan dan minuman memberikan rasa manis tanpa berkontribusi terhadap asupan kalori.
Bahan ini disukai banyak orang karena stabilitasnya dalam kondisi suhu tinggi, cocok untuk memasak dan membuat kue, kata dietitian Kejal Shah.
Lalu, sukralosa tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar gula darah dan insulin karena tidak dimetabolisme oleh tubuh, dikutip JawaPos.com dari Healthshots, Selasa (30/1).
“Ia melewati sistem pencernaan dan tidak diserap, menjadikannya pemanis yang tepat untuk penderita diabetes atau mereka yang ingin mengatur gula darahnya,” jelas sang ahli.
Sebuah penelitian dari Applied Physiology, Nutrition and Metabolism menunjukkan fakta bahwa sukralosa tidak mempengaruhi sensitivitas insulin.
Tidak seperti pemanis lainnya, sukralosa tetap stabil pada suhu tinggi sehingga cocok untuk dimasak dan dipanggang sehingga aman dikonsumsi.
“Tidak ada zat berbahaya yang terbentuk selama proses pemanggangan, memungkinkan terciptanya suguhan rendah kalori dan bebas gula. Namun, disarankan untuk mengikuti pedoman penggunaan yang disarankan untuk mempertahankan rasa manis dan menghindari potensi perubahan rasa atau tekstur,” papar Shah.
Disisi lain, beberapa penelitian menunjukkan sebaliknya. Studi yang dipublikasikan Food Chemistry menunjukkan fakta memanaskan sukralosa dengan gliserol dapat menghasilkan zat berbahaya disebut kloropropanol.
Ada beragam pandangan mengenai apakah konsumsi sukralosa berdampak pada kesehatan usus.
Sebuah studi di Frontiers in Physiology menunjukkan mengkonsumsi sukralosa selama 6 bulan berdampak pada mikrobioma usus dan meningkatkan peradangan.
Namun, penelitian lain seperti study The British Journal of Nutrition menunjukkan fakta bahwa hal itu tidak berdampak pada mikrobioma usus.
“Efek keseluruhannya tampaknya netral bagi kebanyakan orang, sedangkan untuk berat badan, sukralosa sering digunakan sebagai penolong penurunan berat badan karena rendah kalori. Ini memberikan rasa manis tanpa berkontribusi terhadap asupan energi secara keseluruhan, menjadikannya pilihan populer bagi mereka yang ingin mengurangi konsumsi kalori dan mengatur berat badan, meski respons individu mungkin berbeda-beda dan penting untuk mempertimbangkan kebiasaan makan secara keseluruhan agar pengelolaan berat badan efektif,” ungkap Shah.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
