Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 11 April 2026 | 21.52 WIB

RDP DPR Ungkap Masalah Gula Nasional, Impor Rafinasi Diminta Dihentikan

Tebu-tebu milik petani yang akan digiling di PT Sinergi Gula Nusantara (SGN). (ANTARA/HO-PT SGN) - Image

Tebu-tebu milik petani yang akan digiling di PT Sinergi Gula Nusantara (SGN). (ANTARA/HO-PT SGN)

JawaPos.com - Komisi VI DPR RI meminta pemerintah menghentikan sementara impor gula rafinasi. Langkah ini dinilai penting untuk melindungi ekosistem gula nasional sekaligus menjaga keberlanjutan petani tebu.

Permintaan tersebut juga dikaitkan dengan kondisi geopolitik global yang tidak menentu. Selain itu, kebijakan ini dianggap relevan dengan target swasembada gula sebagai bagian dari swasembada pangan nasional.

”Kami meminta di Komisi VI disegerakan dengan seluruh kementerian, jangan ada impor dulu. Supaya kalau ada impor gula rafinasi di 2026 sudah harus melalui BUMN,” ucap Wakil Ketua Komisi VI, Andre Rosiade.

Andre menegaskan penghentian impor perlu dilakukan hingga regulasi baru diterbitkan. Aturan tersebut akan merujuk pada kesimpulan Rapat Dengar Pendapat antara Komisi VI dengan sejumlah kementerian dan lembaga terkait.

RDP tersebut melibatkan Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, serta Badan Pusat Statistik dan sejumlah BUMN sektor gula. Rapat berlangsung pada Rabu (8/4) dan menghasilkan sejumlah poin penting terkait tata niaga gula.

Salah satu poin utama adalah rencana pembatasan impor gula rafinasi hanya melalui perusahaan BUMN. Selain itu, Komisi VI juga akan membentuk panitia kerja untuk mengawasi impor gula.

”Karena kalau tidak (impor gula rafinasi) melalui BUMN, insyaAllah masih akan ada rembesan (gula rafinasi menjadi gula konsumsi di pasar). Nanti Danantara nombok lagi,” tegasnya.

Masalah impor gula rafinasi dinilai menjadi akar persoalan dalam tata kelola industri gula nasional. Kebocoran distribusi gula rafinasi ke pasar konsumsi membuat harga gula menjadi tidak seimbang.

Gula rafinasi yang lebih murah menyebabkan gula produksi dalam negeri sulit bersaing. Dampaknya, hasil panen petani tebu tidak terserap optimal dan berujung pada kerugian.

CEO Danantara Asset Management, Dony Oskaria, menyatakan perlunya penanganan serius terhadap persoalan ini. Ia menilai kebocoran gula rafinasi menjadi hambatan utama bagi pertumbuhan industri gula nasional.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore