Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 April 2022 | 17.09 WIB

Atasi Konflik Rumah Tangga, Psikolog Bilang Hindari Unsur Paksaan

AKTIF: Menjaga tubuh selalu bugas dengan berolahraga teratur menjadi salah satu cara untuk meringankan gejala long Covid. (Ilustrasi diperagakan model - Alfian Rizal/Jawa Pos) - Image

AKTIF: Menjaga tubuh selalu bugas dengan berolahraga teratur menjadi salah satu cara untuk meringankan gejala long Covid. (Ilustrasi diperagakan model - Alfian Rizal/Jawa Pos)

JawaPos.com–Bagi yang sudah berkeluarga, siapa yang tak pernah mengalami konflik rumah tangga. Konflik dalam sebuah keluarga atau rumah tangga sudah jadi hal biasa.

Ketika ada konflik, banyak keluarga ingin segera menuntaskannya. Padahal dalam menyelesaikan konflik rumah tangga, perlu dihindari unsur paksaan dan tidak harus seketika tuntas.

Penanganan konflik dalam rumah tangga tersebut dikupas Psikolog dari Siloam Hospitals Lippo Cikarang Rachel Chalista F.D. Hersa. Dia menekankan penyelesaian konflik keluarga atau rumah tangga dengan menekankan komunikasi.

Menurut Rachel, dalam setiap keluarga pasti akan terjadi atau timbul konflik yang tidak bisa dihindari. ”Namun pada saat seseorang menyadari bagaimana solusi tidak harus segera tuntas saat itu, maka konflik akan dapat lebih cepat tertangani,” kata Rachel dalam keterangannya Jumat (1/4).

Penyelesaian konflik rumah tangga dengan tidak harus segera tuntas, malah bisa memberikan rasa nyaman kepada yang sedang konflik. Sebab, mereka tidak di bawah tekanan atau paksaan untuk menyelesaikan konflik saat itu juga.

Sebaliknya, semua pihak diajak untuk sama-sama berfikir mencari jalan keluar yang terbaik untuk mengatasi persoalan. ”Baik antara suami, istri, orang tua, maupun anak,” papar Rachel.

Ketika kondisi seperti itu sudah muncul, setiap anggota keluarga merasa nyaman. Selain itu seluruh anggota keluarga merasa memiliki tujuan yang satu dalam sebuah keluarga.

”Dalam hal masalah konflik komunikasi antara suami istri, harus disadari bahwa sebenarnya masalah itu tidak harus selesai semuanya. Tetapi setidaknya kita bisa menanganinya,” terang Rachel.

Rachel menjelaskan, di dalam keluarga, setiap individu perlu memiliki self awareness (kesadaran akan keberadaan diri) bahwa mempunyai kekuatan dan kelemahan. Sehingga diharapkan dapat memiliki keinginan untuk saling membantu.

Dia mengingatkan betapa penting peran keluarga sebagai sistem yang terkecil di lingkungan sosial masyarakat. Keluarga berperan dalam membangun stabilitas, membangun sistem yang lebih besar dan utuh di lingkungan.

”Diharapkan muncul keluarga-keluarga yang bertumbuh dengan pola komunikasi yang sehat. Sehingga tercipta lingkungan masyarakat yang dewasa dalam berelasi di lingkungan. Serta lingkungan masyarakat kita menjadi harmonis, sehat, nyaman, dan Bahagia,” ucap Rachel.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore