
SUPPORT SYSTEM: Wasinah (tiga dari kiri) menggandeng lengan Oma Nuri di sebelah kanannya. Dia dan Rustina (kanan) biasanya berbincang dengan para oma yang nongkrong di Uma Oma.
Usia manusia memang selalu bertambah. Konon, semakin besar angkanya, semakin sedikit produktivitasnya. Benarkah masa tua selalu akrab dengan kesepian dan hari-hari berisi sekelumit rutinitas membosankan?
DI depan pintu, Oma Rustinah menyambut semua pengunjung dengan senyum lebarnya. Ada ketulusan dalam sorot matanya yang ramah. Siapa pun yang melihatnya dijamin akan langsung teringat nenek sendiri. "Memang banyak yang datang ke sini karena kangen neneknya,” ujar perempuan kelahiran 15 Agustus 1942 itu saat ditemui Jawa Pos pada Rabu (8/11).
Seperti sungguh-sungguh pulang ke rumah nenek, para pengunjung langsung ditawari makanan dan minuman. Bedanya, yang Rustinah lakukan itu adalah prosedur. Sebab, dia tercatat sebagai karyawan di Uma Oma Authentic Indonesian Food & Café, kawasan Melawai, Jakarta. Buka mulai September lalu, kafe berfasad sederhana itu memang menawarkan kehangatan rumah nenek. Maka, menunya pun adalah masakan rumahan. Di antaranya tempe orek, telur balado, kentang mustofa, mi kuning, ayam suwir, dan empal gentong.
"Enak makanannya?” tanya Oma Wasinah, karyawan lanjut usia yang lain, kepada pengunjung kafe.
Yang ditanya pun mengangguk-angguk sambil tetap asyik mengunyah makanan di dalam mulutnya. "Sedap!” imbuh pengunjung bernama Nuri Setyo tersebut setelah menelan suapan nasi lidah sapi. Perempuan yang karib disapa Oma Nuri itu sepantaran dengan Rustinah dan Wasinah. Di usianya yang 86 tahun, Oma Nuri merasa menemukan semangat mudanya di kafe yang menerapkan konsep sumber daya manusia (SDM) intergenerational tersebut.
DUO OMA: Wasinah (kiri) dan Kustinah berfoto di salah satu sudut Uma Oma Authentic Indonesian Food & Cafe berfoto di salah satu sudut Uma Oma Authentic Indonesian Food & Cafe pada Rabu (8/11) lalu.
Dilayani oleh karyawan lansia di kafe homey membuat Oma Nuri merasa hidupnya berarti. Apalagi, ada Rustinah dan Wasinah yang selalu menghampiri lantas menyapa pengunjung di meja mereka masing-masing. Sekadar menyapa atau berbincang ringan. Namun, pendekatan humanis seperti itu ternyata memberikan arti besar di era modern yang serbadigital seperti sekarang. Karena itu, tak heran jika kafe selalu ramai oleh pengunjung.
Kadang, ada pengunjung yang menjadi emosional saat disapa, disalami, atau dirangkul oleh Rustinah dan Wasinah. Ada yang mendadak disergap rindu pada nenek di kampung, ada pula yang pipinya lalu basah karena ingat nenek yang sudah tiada. ’’Melihat saya lalu seperti melihat nenek sendiri,” ungkap Rustinah.
Sebaliknya, Rustinah dan Wasinah pun kemudian merasa bertemu anak atau cucu baru. ’’Ya, saya lalu jadi ibunya atau neneknya,” ujar ibu tiga anak asal Jogja tersebut. Anak-anak, cucu, dan cicit Rustinah tinggal jauh darinya. Maka, saat mendapatkan tawaran untuk bekerja di kafe, dia pun langsung menyanggupinya. ’’Daripada sepi di rumah,” sambungnya.
HANGAT: Wasinah menyapa dan berbincang ringan dengan para pengunjung yang rata-rata usianya sama dengan cucu atau anaknya.
Senada dengan Rustinah, Wasinah pun memilih bekerja agar tenaganya tersalurkan. Juga, agar bertemu banyak orang setiap hari. ’’Saya tinggal sendiri di rumah Kebayoran Lama,” jelasnya.
Jika para pengunjung menikmati kesan pulang ke rumah nenek saat makan dan minum di kafe tersebut, Rustinah dan Wasinah merasa mendapatkan suntikan energi baru dari orang-orang yang datang. Fisik mereka berdua mungkin tidak sekuat karyawan lain yang masih muda. Tapi, soal semangat boleh diadu.
’’Kerja, ketemu orang, melayani,” tegas Wasinah saat ditanya tentang apa yang membuatnya tetap energik dan murah senyum.
Jika ada rombongan pengunjung sebaya, seperti Oma Nuri dan teman-temannya pada Rabu lalu, Rustinah dan Wasinah merasa seperti disambangi kawan lama. Siang itu, Oma Nuri mengajak serta Oma Branto, 81; Oma Ngadimin, 70; dan Oma Siane, 60. Mereka sengaja janjian nongkrong karena ingin bertemu Rustinah dan Wasinah. ’’Biar semakin semangat. Kami semangat, mereka semangat. Saling menyemangati sesama oma,” seru Oma Nuri. (idr/c17/hep)

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
