Semangkuk stinky tofu khas Changsha yang disajikan dengan sambal pedas, lobak, dan taburan ketumbar segar
JawaPos.com - Stinky tofu, atau tahu berbau menyengat, telah menjadi ikon kuliner di Changsha, ibu kota Provinsi Hunan, Tiongkok. Meski aroma khasnya kerap membuat orang menutup hidung, hidangan ini justru semakin populer dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kota tersebut. Seperti dilansir dari People's Daily, banyak wisatawan menjadikan stinky tofu sebagai salah satu alasan utama berkunjung ke Changsha.
Proses pembuatan stinky tofu membutuhkan keterampilan khusus. Tahu mentah yang terbuat dari kedelai direndam dalam larutan garam dengan fermentasi tertentu sehingga menghasilkan bau yang tajam. Aroma ini sering dianggap ekstrem, namun saat digoreng, stinky tofu menghasilkan tekstur luar yang garing dan bagian dalam yang lembut, dilengkapi saus pedas, lobak, dan ketumbar segar.
Bagi masyarakat lokal, stinky tofu bukan sekadar makanan, melainkan simbol keunikan kota. Banyak penjual kaki lima di Changsha menawarkan variasi hidangan ini dengan bumbu khas daerah. Meskipun bagi sebagian orang bau stinky tofu disamakan dengan "kaki bau", banyak yang akhirnya jatuh cinta setelah mencicipinya.
Ketenaran stinky tofu juga mendorong lahirnya kisah sukses bisnis. Lu Lucheng, pendiri merek Hey Hey Black, memulai usaha dari kios kecil pada 2009. Dilansir dari China Daily, kini bisnis tersebut telah berkembang menjadi jaringan dengan lebih dari 1.800 cabang di seluruh Tiongkok.
Pertumbuhan pesat ini turut terlihat dari penjualannya. Perusahaan itu mampu menjual lebih dari 800.000 potong stinky tofu setiap hari, dengan pendapatan tahunan melampaui 500 juta yuan. Keberhasilan ini bahkan tetap berlanjut setelah masa sulit akibat pandemi COVID-19.
Untuk mempertahankan kinerja, perusahaan tidak hanya menjual stinky tofu segar, tetapi juga mengembangkan lini makanan kemasan. Produk kemasan kini menyumbang sekitar 60 persen dari total pendapatan, membantu menutupi biaya operasional yang semakin tinggi.
Langkah diversifikasi itu juga memberikan nilai tambah bagi pelanggan. Produk makanan kemasan dianggap lebih praktis, bisa dibawa pulang, dan dipasarkan secara luas di luar kota asalnya. Strategi ini menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan keuntungan.
Standarisasi juga menjadi perhatian utama. Mulai dari rasa, kemasan, hingga desain toko, semua dibuat konsisten agar pelanggan mendapatkan pengalaman yang sama di berbagai cabang. Hal ini membantu memperkuat citra merek Hey Hey Black di mata konsumen.
Di kawasan wisata populer seperti Huangxing Road di Changsha, antrean panjang untuk mendapatkan seporsi stinky tofu menjadi pemandangan biasa. Banyak turis dari luar provinsi bahkan rela datang hanya untuk mencicipi makanan ini setelah melihat ulasannya di media sosial.
Fenomena stinky tofu membuktikan bahwa rasa lokal yang unik bisa menjadi daya tarik global. Apa yang awalnya dianggap menjijikkan justru bertransformasi menjadi magnet wisata kuliner. Dari jajanan jalanan hingga jaringan bisnis bernilai jutaan yuan, stinky tofu telah menjelma sebagai simbol budaya dan kekuatan ekonomi lokal.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
