Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Oktober 2025 | 00.13 WIB

Stinky Tofu: Camilan Bau Menyengat yang Jadi Ikon Kuliner dan Bisnis Besar di Tiongkok

Semangkuk stinky tofu khas Changsha yang disajikan dengan sambal pedas, lobak, dan taburan ketumbar segar

JawaPos.com - Stinky tofu, atau tahu berbau menyengat, telah menjadi ikon kuliner di Changsha, ibu kota Provinsi Hunan, Tiongkok. Meski aroma khasnya kerap membuat orang menutup hidung, hidangan ini justru semakin populer dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kota tersebut. Seperti dilansir dari People's Daily, banyak wisatawan menjadikan stinky tofu sebagai salah satu alasan utama berkunjung ke Changsha.

Proses pembuatan stinky tofu membutuhkan keterampilan khusus. Tahu mentah yang terbuat dari kedelai direndam dalam larutan garam dengan fermentasi tertentu sehingga menghasilkan bau yang tajam. Aroma ini sering dianggap ekstrem, namun saat digoreng, stinky tofu menghasilkan tekstur luar yang garing dan bagian dalam yang lembut, dilengkapi saus pedas, lobak, dan ketumbar segar.

Bagi masyarakat lokal, stinky tofu bukan sekadar makanan, melainkan simbol keunikan kota. Banyak penjual kaki lima di Changsha menawarkan variasi hidangan ini dengan bumbu khas daerah. Meskipun bagi sebagian orang bau stinky tofu disamakan dengan "kaki bau", banyak yang akhirnya jatuh cinta setelah mencicipinya.

Ketenaran stinky tofu juga mendorong lahirnya kisah sukses bisnis. Lu Lucheng, pendiri merek Hey Hey Black, memulai usaha dari kios kecil pada 2009. Dilansir dari China Daily, kini bisnis tersebut telah berkembang menjadi jaringan dengan lebih dari 1.800 cabang di seluruh Tiongkok.

Pertumbuhan pesat ini turut terlihat dari penjualannya. Perusahaan itu mampu menjual lebih dari 800.000 potong stinky tofu setiap hari, dengan pendapatan tahunan melampaui 500 juta yuan. Keberhasilan ini bahkan tetap berlanjut setelah masa sulit akibat pandemi COVID-19.

Untuk mempertahankan kinerja, perusahaan tidak hanya menjual stinky tofu segar, tetapi juga mengembangkan lini makanan kemasan. Produk kemasan kini menyumbang sekitar 60 persen dari total pendapatan, membantu menutupi biaya operasional yang semakin tinggi.

Langkah diversifikasi itu juga memberikan nilai tambah bagi pelanggan. Produk makanan kemasan dianggap lebih praktis, bisa dibawa pulang, dan dipasarkan secara luas di luar kota asalnya. Strategi ini menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan keuntungan.

Standarisasi juga menjadi perhatian utama. Mulai dari rasa, kemasan, hingga desain toko, semua dibuat konsisten agar pelanggan mendapatkan pengalaman yang sama di berbagai cabang. Hal ini membantu memperkuat citra merek Hey Hey Black di mata konsumen.

Di kawasan wisata populer seperti Huangxing Road di Changsha, antrean panjang untuk mendapatkan seporsi stinky tofu menjadi pemandangan biasa. Banyak turis dari luar provinsi bahkan rela datang hanya untuk mencicipi makanan ini setelah melihat ulasannya di media sosial.

Fenomena stinky tofu membuktikan bahwa rasa lokal yang unik bisa menjadi daya tarik global. Apa yang awalnya dianggap menjijikkan justru bertransformasi menjadi magnet wisata kuliner. Dari jajanan jalanan hingga jaringan bisnis bernilai jutaan yuan, stinky tofu telah menjelma sebagai simbol budaya dan kekuatan ekonomi lokal.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore