Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 13 September 2025 | 23.55 WIB

Mengenal Rujak Cingur, Kuliner Khas Surabaya yang Selalu jadi Incaran Wisatawan sekaligus jadi Identitas Budaya Lokal

Ilustrasi rujak cingur, kuliner khas Surabaya yang jadi identitas budaya dan incaran wisatawan. (sajiansedap.com) - Image

Ilustrasi rujak cingur, kuliner khas Surabaya yang jadi identitas budaya dan incaran wisatawan. (sajiansedap.com)

JawaPos.com – Jika ada satu kuliner yang mampu merangkum keunikan Jawa Timur, khususnya Surabaya, maka rujak cingur adalah jawabannya.

Hidangan ini bukan sekadar makanan, melainkan representasi sejarah panjang, tradisi kuliner, dan identitas sebuah kota.

Rujak cingur adalah salah satu kuliner khas Surabaya yang tidak hanya terkenal karena rasanya yang unik, tetapi juga karena kedalamannya sebagai bagian dari warisan budaya. 

Nama cingur berasal dari bahasa Jawa yang berarti “hidung” atau “moncong sapi”, bagian daging yang memang menjadi bahan utama dalam hidangan ini.

Meski bagi sebagian orang terdengar asing, penggunaan cingur dalam rujak justru menjadi daya tarik tersendiri, mencerminkan keberanian masyarakat Jawa Timur dalam mengolah bahan sederhana menjadi sajian istimewa. 

Banyak wisatawan yang datang ke Surabaya menganggap rujak cingur sebagai “tantangan rasa” sekaligus pengalaman budaya yang tak terlupakan.

Dengan paduan bahan sederhana namun kaya makna, sajian ini terus bertahan dan bahkan kini telah diakui sebagai warisan budaya takbenda.

Asal-usul dan Sejarah

Nama “cingur” berasal dari bahasa Jawa yang berarti mulut atau moncong sapi. Potongan daging bagian ini kemudian menjadi bahan utama yang membedakan rujak cingur dari rujak lainnya di Nusantara.

Menurut catatan yang dikutip oleh Nusantara Institute, hidangan ini sudah ada sejak awal abad ke-20 dan berkembang bersamaan dengan kehidupan masyarakat urban di Surabaya.

Lebih dari sekadar kuliner, rujak cingur mencerminkan kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan lokal yang tersedia, lalu menggabungkannya dengan rempah-rempah khas Jawa Timur.

Rujak cingur juga sering dianggap sebagai simbol akulturasi. Awalnya, penggunaan petis ikan adalah yang paling dominan.

Tetapi seiring waktu, masyarakat Surabaya mulai menggunakan petis udang karena rasanya lebih cocok dengan lidah setempat.

Perubahan kecil ini menunjukkan bahwa kuliner tak pernah statis, melainkan selalu beradaptasi dengan selera dan dinamika masyarakat.

Tidak heran jika kemudian rujak cingur bukan hanya makanan sehari-hari, tetapi juga bagian dari identitas kolektif orang Surabaya.

Ciri Khas dan Bahan

Melansir dari Hipwee, rahasia utama rujak cingur terletak pada perpaduan bahan yang sangat lengkap.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore