Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 November 2025 | 04.03 WIB

Bangkitnya Penambangan Bitcoin di Tiongkok Dorong Pergeseran Global Aset Kripto meski Larangan 2021 Masih Berlaku

Ilustrasi representasi koin Bitcoin dalam foto (Dok. Reuters)

JawaPos.com - Setelah beberapa tahun terhenti akibat pelarangan keras, fpenambangan Bitcoin di Tiongkok secara diam-diam mulai bangkit kembali. Meski dilarang sejak 2021, aktivitas penambangan Bitcoin kembali muncul karena penambang individu maupun perusahaan memanfaatkan listrik murah dan pusat data yang berkembang di provinsi kaya energi.

Dilansir dari Reuters, Selasa (25/11/2025), pangsa pasar penambangan Bitcoin global dari Tiongkok perlahan naik. Data Hashrate Index menunjukkan bahwa pada akhir Oktober, Tiongkok menempati posisi ketiga secara global dengan pangsa sekitar 14 persen. Sebelumnya, Tiongkok merupakan raksasa penambangan kripto dunia. Namun, pada 2021, Pemerintah Tiongkok melarang semua aktivitas terkait perdagangan dan penambangan kripto dengan alasan menjaga stabilitas finansial dan konservasi energi.

Wang, seorang penambang swasta di Xinjiang, mengungkapkan strateginya: "Banyak energi tidak bisa dialirkan keluar dari Xinjiang, jadi Anda mengonsumsinya dalam bentuk penambangan kripto. Penambang cenderung memilih lokasi dengan biaya listrik rendah." Dia menambahkan bahwa proyek tambang baru tengah dibangun di provinsi tersebut karena pasokan listrik yang melimpah dan tidak terpakai.

Kebangkitan ini juga tercermin dari laporan produsen rig penambangan, Canaan Inc., yang mencatat lonjakan penjualan dalam negeri. Pada kuartal kedua tahun ini, lebih dari 50 persen pendapatan Canaan berasal dari pasar Tiongkok, jauh meningkat dari hanya 2,8 persen pada 2022.

Meski pemerintah Tiongkok belum mencabut larangan, para analis menilai munculnya aktivitas tambang adalah sinyal fleksibilitas kebijakan, terutama ketika insentif ekonomi di wilayah tertentu sangat kuat.

Patrick Gruhn, CEO Perpetuals.com, menegaskan, "Kebangkitan aktivitas penambangan di Tiongkok adalah salah satu sinyal paling penting yang telah dilihat pasar dalam beberapa tahun."

Kawasan seperti Xinjiang dan Sichuan, yang kaya listrik, menjadi magnet bagi penambangan Bitcoin yang sangat padat energi. Duke Huang, seorang penambang dari Sichuan, menjelaskan, "Ini adalah area sensitif ... Tapi orang yang mendapatkan listrik murah tetap menambang."

Selain faktor energi, lonjakan harga Bitcoin ikut mendorong pemulihan ini. Kenaikan nilai aset digital ini terjadi seiring kebijakan pro-kripto dari Amerika Serikat dan meningkatnya ketidakpercayaan terhadap dolar AS. Namun, volatilitas tetap ada; sejak puncaknya pada Oktober, harga Bitcoin turun sekitar sepertiga.

Sinyal pelonggaran juga terlihat dari wilayah Hong Kong, di mana RUU stablecoin mulai berlaku Agustus lalu, dan penggunaan stablecoin berdenominasi yuan tengah dibahas untuk memperluas adopsi mata uang Tiongkok.

Julio Moreno, Kepala Riset di CryptoQuant, memperkirakan sekitar 15–20 persen kapasitas hashrate penambangan Bitcoin global kini beroperasi di Tiongkok, meski secara resmi masih dilarang.

Liu Honglin, pendiri firma hukum Man Kun, menambahkan, "Saya pribadi berpikir kebijakan terhadap penambangan akan dilonggarkan secara bertahap, karena Anda tidak bisa menghentikan aktivitas semacam ini sepenuhnya."

Bangkitnya penambangan Bitcoin di Tiongkok menjadi indikator penting pergeseran global pasar kripto. Meski larangan resmi masih berlaku, realitas ekonomi, teknologi, dan energi mendorong aktivitas kripto kembali berkembang, bukan secara terbuka, tetapi melalui strategi pragmatis di balik layar.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore