Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 Juli 2025 | 18.20 WIB

Rugi Kalau Telat: Ethereum Naik Tajam Usai Sinyal Teknis dan Investasi Raksasa Masuk

Ilustrasi Ethereum. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Ethereum kembali mencuri perhatian pasar kripto global usai memicu sinyal teknikal langka dan diserbu dana jumbo dari perusahaan publik. Pada Jumat (18/7), harga Ethereum bergerak di sekitar USD 3.452 atau sekitar Rp 55,9 juta per koin, didukung sinyal bullish teknikal dan gelombang akumulasi besar dari perusahaan-perusahaan Amerika Serikat.

Dikutip dari Bitcoinist, Jumat (18/7), analis kripto Tony Severino menyebut bahwa Ethereum baru saja mengaktifkan indikator teknikal langka bernama Raging Bull. Indikator ini terakhir kali muncul saat Ethereum mengalami lonjakan besar pada 2020 menuju level tertinggi sepanjang masa di atas USD 4.800 atau sekitar Rp 77,7 juta.

Sinyal 'Raging Bull' ini terkonfirmasi setelah Ethereum mencatat penutupan bulanan di harga USD 3.177 atau Rp 51,5 juta, dengan lonjakan 27,81 persen. Indikator ini, yang ditandai dengan candle kuning pada grafik, menunjukkan momen kuat pembentukan tren naik dalam jangka panjang.

Menariknya, indikator serupa juga muncul lebih dulu pada Bitcoin pada Mei 2025 lalu, sebelum harga BTC melesat menembus rekor baru di atas USD 120.000. Karena itu, munculnya kembali sinyal ini pada ETH dinilai sebagai sinyal kuat bahwa fase bull market baru untuk Ethereum sedang berlangsung.

Di luar indikator teknikal, arus dana masuk ke Ethereum juga mencatat rekor. Dikutip dari BeInCrypto, Jumat (18/7), setidaknya tiga perusahaan publik di Amerika Serikat — BTC Digital Ltd (BTCT), BitMine Immersion, dan Bit Digital — mengakumulasi Ethereum dalam jumlah besar, total senilai lebih dari USD 1,5 miliar atau Rp 24,3 triliun.

BTCT secara resmi mengumumkan bahwa mereka beralih sepenuhnya dari Bitcoin ke Ethereum sebagai bagian dari strategi pertumbuhan baru. Dalam rilisnya, CEO BTCT Siguang Peng mengatakan pihaknya menutup pendanaan USD 6 juta dan langsung menambahkan posisi baru USD 1 juta dalam ETH.

Langkah lebih besar diambil oleh BitMine Immersion, yang kini memiliki 300.657 ETH senilai sekitar USD 1,04 miliar atau Rp 16,8 triliun, menjadikannya salah satu pemegang ETH terbesar di kalangan korporasi. Chairman BitMine, Tom Lee dari Fundstrat, bahkan menyatakan perusahaan tersebut menargetkan menguasai 5 persen dari total suplai Ethereum global.

Sementara itu, Bit Digital mengungkapkan bahwa mereka telah menjual seluruh kepemilikan Bitcoin untuk beralih ke Ethereum. Mereka membeli 100.603 ETH senilai USD 254,8 juta atau sekitar Rp 4,1 triliun.

Analis menyebutkan bahwa pergeseran ini mencerminkan perubahan pandangan jangka panjang dari perusahaan publik terhadap Ethereum. Bukan hanya sebagai aset spekulatif, tapi sebagai aset strategis dengan potensi imbal hasil dan peran penting dalam keuangan terdesentralisasi (DeFi).

Tak hanya itu, laporan juga menyebut bahwa beberapa institusi lain kini mulai menjajaki strategi serupa terhadap Dogecoin. Salah satunya adalah Bit Origin, yang mengamankan pendanaan USD 500 juta untuk membentuk cadangan kas berbasis DOGE.

Dengan sinyal teknikal kuat dan gelombang akumulasi institusional, Ethereum tampaknya berada di jalur percepatan reli harga berikutnya. Investor pun dihadapkan pada pilihan: ikut masuk lebih awal, atau berisiko tertinggal.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore