
HOP: Seorang anak perempuan berusaha melompati karet yang dibentangkan teman-temannya saat bermain bersama TGR, Minggu (11/8). (MIFTAHUL HAYAT/JAWA POS)
Permainan tradisional tak pernah lekang oleh zaman. Sebelum game online menyita sebagian besar waktu anak-anak dan remaja, halaman rumah dan tanah lapang menjadi ajang adu sportivitas. Gobak sodor, lompat karet, atau benteng-bentengan selalu sukses menghadirkan keseruan.
Aghnina Wahdini yang akrab disapa Nina percaya bahwa permainan tradisional selalu disukai oleh siapa pun yang mengenalnya. Apalagi oleh anak-anak dan remaja. ’’Bukan ditinggalkan, tapi tidak dikenal. Plus nggak ada temen main di rumah,” ungkapnya saat ditemui Jawa Pos pada Minggu (11/8).
Pernyataan Nina itu bukan tanpa alasan. Tiap kali komunitas permainan tradisional yang dia gagas hadir dalam acara apa pun, peminatnya selalu tinggi. Traditional Games Return (TGR), nama komunitas itu, memang tidak menyasar umur tertentu. Tak hanya anak-anak dan remaja, kelompok lanjut usia (lansia) pun bisa ikut larut dalam euforianya.
TGR lahir pada 2016 saat Nina mengerjakan tugas praktik di kampusnya. Ketika itu, dia prihatin karena ada begitu banyak anak-anak usia sekolah yang kecanduan game online. Bahkan, mereka sampai bolos sekolah hanya demi bisa main game di warnet atau tempat rental.
’’Indonesia punya 2.600 lebih jenis permainan tradisional. Itu sangat menarik untuk dieksplor,” katanya.
Dari yang awalnya hanya diusung empat orang saja, kini TGR punya 200 anggota aktif di berbagai daerah di Indonesia. Sampai sekarang pun, TGR rajin berkolaborasi dengan komunitas-komunitas lokal untuk menghadirkan permainan tradisional dalam beragam event. Sedikitnya ada 15–20 acara yang rutin TGR isi.
’’Kami juga reguler mengisi Kids Corner di Hotel Bidakara Jakarta. Di sana ada space khusus untuk melakukan permainan tradisional,” ujarnya.
Salah satu aktivitas TGR yang berkesan adalah kolaborasi dengan komunitas di Jogja dengan mengundang lansia dan para cucu mereka. ’’Jadi ngetemuin lansia-lansia, eyang-eyang itu sama cucunya. Diajak main congklak dan sebagainya. Buat yang tua jatuhnya nostalgia, buat yang anak-anak jadi sarana belajar,” papar Nina.
Bahwa permainan tradisional tidak benar-benar ditinggalkan asalkan ada teman untuk menghadirkan keseruannya terbukti tiap Jumat malam di Gate E Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Pada hari yang telah disepakati itu, puluhan anak dan remaja gaul ibu kota berkumpul lalu bermain lompat karet atau benteng-bentengan.
Jumat pekan lalu, tidak kurang dari 30 remaja dan anak muda mendatangi pelataran Gate E Stadion Gelora Bung Karno. Agar antrean bermain tidak terlalu lama, mereka berkelompok menjadi dua. Setelah itu, mereka larut dalam keseruan bermain lompat karet dan benteng-bentengan.
’’Sudah dua kali ke sini, ingin main lompat karet dan benteng-bentengan. Seru banget, karena main kayak gini di rumah justru nggak bisa. Enak di sini banyak temennya,” ujar Fadhil pada Jumat (9/8). Kendati awalnya tidak saling kenal, pemuda 19 tahun asal Jakarta Selatan itu sudah punya beberapa teman baru yang sama-sama menikmati permainan tradisional.
Cici, remaja perempuan yang asyik bermain di pelataran Gate E, tak mau absen tiap Jumat. Dulu, jumlah pesertanya belum sebanyak sekarang. Awalnya hanya 6–10 orang saja. Namun, keseruan yang diunggah ke media sosial itu lantas mendatangkan massa. Apalagi, tidak ada syarat khusus untuk ikut bermain tiap Jumat malam. Semua orang bisa bergabung.
’’Sambil main akhirnya dapat teman baru. Dan di sini semua yang datang memang tujuannya untuk cari fun. Jauh lebih seru dibandingkan main gadget, jauh lebih seru dibanding nongkrong di coffee shop,” tegas Cici. (agf/c17/hep)

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
