Ilustrasi perempuan Jepang.
JawaPos.com - Kebugaran fisik perempuan Jepang berusia 30-an dan 40-an terus menurun selama sekitar 25 tahun hingga tahun fiskal 2025. Kebiasaan berolahraga mereka juga semakin berkurang, salah satunya diduga karena beban pekerjaan, urusan rumah tangga, dan pengasuhan anak.
Dilansir dari Kyodo, Minggu (11/10), survei Badan Olahraga Jepang menunjukkan perempuan dalam dua kelompok usia tersebut semakin jarang menjadi anggota klub olahraga atau fasilitas sejenis. Jumlah perempuan yang berolahraga setidaknya sekali dalam sepekan juga menunjukkan tren penurunan.
Sejumlah analis menilai sebagian perempuan kesulitan berolahraga meskipun memiliki keinginan untuk melakukannya. Keterbatasan waktu dan biaya menjadi kendala ketika mereka harus menyeimbangkan pekerjaan dengan tanggung jawab rumah tangga dan pengasuhan anak.
Survei kebugaran fisik dan kemampuan atletik tersebut telah dilakukan setiap tahun sejak tahun fiskal 1964, bertepatan dengan penyelenggaraan Olimpiade Tokyo pertama. Hasilnya digunakan untuk mengukur kebugaran dasar dan keterampilan motorik masyarakat, sekaligus menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pemerintah.
Jenis tes yang digunakan saat ini mulai diterapkan pada tahun fiskal 1998. Pada periode itu, kelompok usia 60-an dan 70-an turut dimasukkan sehingga cakupan survei meluas ke penduduk berusia 6 hingga 79 tahun.
Survei untuk tahun fiskal 2025 dilaksanakan pada Mei hingga Oktober tahun lalu dengan mengumpulkan data dari sekitar 60.000 orang.
Dengan skor tahun fiskal 2001 sebagai patokan 100 persen, skor kebugaran fisik total perempuan berusia 30-an turun menjadi 96,3 persen pada tahun fiskal 2025. Sementara itu, skor perempuan berusia 40-an merosot lebih jauh menjadi 93,6 persen.
Penurunan juga terlihat pada kebiasaan berolahraga. Persentase perempuan berusia 30-an yang mengaku berolahraga setidaknya sekali dalam sepekan turun dari sekitar 40 persen menjadi 30 persen.
Pada kelompok usia 40-an, persentasenya turun dari kisaran 40 persen bagian atas menjadi kisaran 40 persen bagian bawah.
Keanggotaan klub olahraga dan fasilitas sejenis juga menunjukkan tren serupa. Pada tahun fiskal 2001, sekitar 30 persen perempuan berusia 30-an tercatat menjadi anggota fasilitas tersebut. Angkanya kemudian turun menjadi sekitar 10 persen.
Penurunan keanggotaan ini lebih besar di kalangan perempuan dibandingkan kelompok lainnya.
Noriko Sekine, profesor fisiologi olahraga di Open University of Japan yang terlibat dalam survei tersebut, menilai kesenjangan kebugaran antara laki-laki dan perempuan mungkin berkaitan dengan pembagian tanggung jawab sehari-hari.
Menurut dia, perempuan cenderung menanggung beban pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak yang lebih besar dibandingkan laki-laki. Kondisi itu dapat mengurangi waktu yang tersedia untuk berolahraga.
Sekine juga menyoroti persoalan finansial yang dihadapi perempuan yang tinggal sendiri. Sebagian dari mereka mungkin tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk membayar keanggotaan klub olahraga.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ketua Komisi II DPR Usulkan Gaji PNS lewat Koperasi Hanya untuk Pegawai Pusat
Tak Hanya Bupati Klaten, KPK Juga Tangkap Kepala BPK Perwakilan Jawa Tengah
Prediksi Skor Estudiantes vs Flamengo: Panas Menuju Final Copa Libertadores
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante: Granotes Paksa Tuan Rumah Berbagi Poin
Menkop Pastikan Gaji PNS Lewat Koperasi Mulai Tahun Ini, Tak Perlu Tunggu 2027
Prediksi Skor Garudayaksa FC vs Arema FC: Singo Edan Kembali ke Jalur Kemenangan
Prediksi Skor Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga: Lini Pertahanan Rapuh Jadi Ancaman Tuan Rumah
KPK Terima Pengembalian Uang Rp 800 Juta dari Hercules Berkaitan Kasus Suap HGB Summarecon
Prediksi Skor Le Mans vs Toulouse: Duel Seru Tim Papan Bawah Demi Lolos Zona Degradasi
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022