Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 September 2026 | 19.17 WIB

55,4 Persen Pasien GERD Alami Esofagitis Erosif, Dokter Soroti Kebutuhan Terapi Baru

Ilustrasi GERD (fREEPIK) - Image

Ilustrasi GERD (fREEPIK)

JawaPos.com - GERD menjadi salah satu gangguan pada saluran pencernaan yang semakin banyak dijumpai di Indonesia. Kondisi tersebut tidak terlepas dari perubahan pola makan dan gaya hidup masyarakat.

Berdasarkan Konsensus Nasional Penatalaksanaan Penyakit GERD Indonesia 2022, prevalensi GERD pada populasi umum diperkirakan mencapai 9,35 persen.

Sementara itu, data IQVIA mencatat pasar obat antiulkus di Indonesia mencapai sekitar Rp2,55 triliun atau setara USD164,3 juta sepanjang 2025, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 6 persen.

Data dari rumah sakit rujukan tingkat tersier juga menunjukkan bahwa 55,4 persen pasien GERD mengalami esofagitis erosif. Kondisi ini menegaskan pentingnya diagnosis yang akurat serta penanganan sejak dini melalui terapi yang efektif dalam praktik klinis.

dr. Ari Fahrial Syam, Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) sekaligus Profesor di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, menekankan pentingnya bukti klinis dalam negeri dalam menentukan strategi terapi GERD.

Hal ini disampaikannya dalam salah satu kongres gastroenterologi utama di Indonesia, simposium ilmiah dalam rangkaian Indonesian Digestive Disease Week (IDDW) 2026 yang bersamaan dengan perkenalan terapi baru untuk GERD yakni fexuprazan oleh PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia (Daewoong).

"Indonesia memiliki proporsi pasien GERD dengan esofagitis erosif yang cukup tinggi. Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan klinis terhadap terapi generasi baru yang mampu memberikan supresi asam secara cepat dan kuat sejak awal pengobatan. Penyusunan panduan terapi berbasis bukti ilmiah yang sesuai dengan kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia, serta didukung data klinis dari pasien Indonesia, memiliki nilai ilmmiah yang sangat penting," ujar Ari di Jakarta pada Jumat (18/8).

Tak hanya itu, pengalaman klinis dan hasil penelitian dari Korea Selatan juga menjadi salah satu pembahasan utama pada simposium.

Ahn Ji Yong, Professor of Gastroenterology di Asan Medical Center dan University of Ulsan College of Medicine, menjelaskan bahwa penggunaan P-CAB di Korea Selatan terus berkembang demi menjawab berbagai kebutuhan klinis yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh terapi proton pump inhibitor (PPI).

Editor: Kuswandi
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore