
Feby br Purba, siswi keracunan MBG kembali mendapat perawatan medis karena racun jamur masuk ke saraf kepalanya. (Sumut Pos)
JawaPos.com - Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi menimbulkan masalah kesehatan mulai dari saraf, ginjal, hingga jantung. Dokter Spesialis Penyakit Dalam memberikan kemungkinan penyebab hal itu terjadi.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi-Imunologi Klinik, Dr. dr. Sukamto Koesno, Sp.PD-KAI, FINASIM, menjelaskan, gangguan saraf setelah keracunan berat dapat terjadi melalui sejumlah mekanisme tidak langsung. Muntah dan diare hebat, misalnya, dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit, hingga penurunan kadar gula darah.
“Jalurnya tidak langsung: muntah dan diare hebat menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit, dan penurunan kadar gula darah,” ujar dr. Sukamto kepada JawaPos.com, Rabu (9/9).
Baca Juga:Prediksi Skor Manchester United vs Sabah FK di Liga Champions: Potensi Pesta di Old Trafford
Kondisi tersebut dapat menyebabkan aliran darah ke otak menurun dan memicu kejang. Salah satu bagian otak yang sangat rentan terhadap kekurangan oksigen dan glukosa adalah hipokampus.
Hipokampus merupakan bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan ingatan baru. Ketika pasokan oksigen dan glukosa terganggu, fungsi bagian tersebut dapat ikut terdampak sehingga gangguan memori mungkin terjadi.
dr. Sukamto mengatakan, masih terdapat sejumlah kemungkinan lain yang perlu dipertimbangkan apabila gangguan saraf atau memori berlangsung setelah keracunan makanan.
“Ada pula kemungkinan kekurangan vitamin B1 akibat muntah berkepanjangan, serta reaksi imun pasca-infeksi seperti ensefalitis autoimun yang khasnya justru muncul beberapa minggu setelah keluhan saluran cerna mereda,” katanya.
Namun, berbagai kemungkinan tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai penyebab gangguan saraf pada korban. Menurut Sukamto, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui kondisi neurologis pasien secara objektif.
Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain pemeriksaan neurokognitif formal, electroencephalography (EEG), MRI kepala, dan bila diperlukan analisis cairan otak.
“Semua ini masih kemungkinan yang harus dibuktikan dengan pemeriksaan neurokognitif formal, EEG, MRI kepala, dan bila perlu analisis cairan otak,” tegasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022