
Dokter Spesialis Urologi RS Premier Bintaro, dr. Teguh Risesa Djufri (kiri). (Nanda Prayoga/JawaPos.com)
JawaPos.com - Angka kejadian batu saluran kemih di Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Kebiasaan kurang bergerak, asupan air putih yang tidak mencukupi, serta pola makan tinggi garam disebut menjadi beberapa faktor yang mendorong meningkatnya kasus penyakit tersebut.
Dokter Spesialis Urologi RS Premier Bintaro, dr. Teguh Risesa Djufri, menjelaskan bahwa terbentuknya batu saluran kemih dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain kekurangan cairan, risiko juga lebih tinggi pada orang yang mengalami obesitas, gangguan metabolisme, mengonsumsi garam secara berlebihan, maupun memiliki riwayat keluarga dengan penyakit serupa.
Ia mengatakan sekitar 1 hingga 13 persen populasi dunia berisiko mengalami batu saluran kemih setidaknya sekali sepanjang hidup. Sementara itu, kondisi iklim tropis seperti di Indonesia membuat masyarakat lebih rentan karena tubuh lebih cepat kehilangan cairan akibat suhu yang cenderung panas.
"Kasusnya memang dari tahun ke tahun dengan kondisi gaya hidup dan pola hidup sekarang ini yang lebih banyak sedentary lifestyle sehingga itu menyebabkan prevalensi dari batu saluran kemih meningkat," ujarnya dalam diskusi “Penanganan Terkini Batu Saluran Kemih” yang diselenggarakan RS Premier Bintaro di Jakarta, dikutip Kamis (23/7).
Menurut dr. Teguh, tidak sedikit pasien baru mengetahui dirinya mengidap batu saluran kemih setelah penyakit berkembang menjadi lebih parah. Hal itu terjadi karena keluhan awal sering kali dianggap sebagai masalah kesehatan biasa sehingga pemeriksaan medis terlambat dilakukan.
Ia menjelaskan, gejala umumnya baru muncul ketika batu menyebabkan penyumbatan atau memicu infeksi pada saluran kemih. Kondisi tersebut dapat ditandai dengan nyeri di area pinggang yang menjalar, mual, demam, urine bercampur darah, hingga rasa sakit saat buang air kecil.
"Biasanya gejalanya nyeri pinggang. Nyeri pinggang yang sering itu dianggap bahwa nyeri pinggang akibat otot. Padahal ternyata itu adalah batu saluran kemih," jelasnya.
Untuk memastikan adanya batu saluran kemih, pemeriksaan biasanya diawali menggunakan USG karena dinilai aman. Apabila diperlukan hasil yang lebih rinci, dokter akan melanjutkan dengan CT scan non-kontras guna mengetahui ukuran dan letak batu sehingga penanganan yang dipilih lebih tepat.
Penanganan disesuaikan dengan kondisi pasien. Batu berukuran kecil umumnya dapat diatasi melalui pemberian obat dan peningkatan konsumsi cairan, sedangkan batu yang lebih besar memerlukan tindakan minimal invasif seperti Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL), atau Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS).

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
