Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 18 Juli 2026 | 18.52 WIB

Penyakit Tenaga Kerja Indonesia Berubah secara Konsisten Seiring Bertambahnya Usia

Layanan Telemedicine untuk kesehatan Pekerja Indoenesia/(Istimewa). - Image

Layanan Telemedicine untuk kesehatan Pekerja Indoenesia/(Istimewa).

JawaPos.com - Di tengah tekanan inflasi medis yang diproyeksikan mencapai 15,1% di Indonesia pada 2026, sejumlah perusahaan Indonesia menghadapi tantangan yang semakin nyata: bagaimana menjaga produktivitas tenaga kerja tanpa membiarkan biaya kesehatan tidak terkendali.

Jawaban atas tantangan ini tidak dimulai dari pemangkasan anggaran, melainkan dari pemahaman yang lebih dalam. Menurut  Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, saat ini, banyak perusahaan Indonesia masih mengelola kesehatan karyawan secara reaktif, tanpa data yang memadai untuk memahami di mana risiko sesungguhnya berada. 

"Indonesia Health Benefit Insights Report 2026 hadir untuk mengubah itu. Laporan ini bukan hanya tentang angka kesehatan, ini adalah cermin untuk melihat profil kesehatan tenaga kerjanya secara nyata, dan dasar untuk merancang strategi yang benar-benar tepat sasaran dan relevan dengan kebutuhan," ungkapnya, di Jakarta, Jumat (17/7).

Laporan ini juga menegaskan bahwa hambatan terbesar terhadap kesehatan karyawan di Indonesia bukan soal kesadaran, melainkan soal akses. Terlalu banyak pekerja yang menunda pengobatan bukan karena tidak mau, tetapi karena sistem yang ada membuat prosesnya lebih sulit dari seharusnya dan penundaan itulah yang pada akhirnya mengubah keluhan ringan menjadi kondisi yang jauh lebih mahal untuk ditangani di kemudian hari.

dr. Irwan Heriyanto, MARS Chief of Medical Halodoc, memaparkan temuan dan data kesehatan yang menjadi dasar dari laporan ini. Lebih dari 1 juta transaksi kesehatan karyawan yang tercatat oleh ekosistem Halodoc menemukan bahwa profil penyakit tenaga kerja Indonesia berubah secara konsisten seiring usia, dari infeksi saluran pernapasan akut pada kelompok muda, gangguan muskuloskeletal akibat aktivitas kerja pada usia produktif 30-49 tahun, hingga penyakit kardiovaskular dan kanker yang mendominasi biaya pada kelompok usia 50 tahun ke atas. 

Perbedaan gender pun tidak kalah signifikan. Sebanyak 81 persen pasien kardiovaskular adalah laki-laki, sementara 72 persen pasien kanker adalah perempuan, dua prioritas skrining yang sepenuhnya berbeda. 

Bahkan dari sisi jenis layanan kesehatan, ISPA menjadi diagnosis teratas rawat jalan dan infeksi pencernaan menjadi diagnosis teratas rawat inap. "Keduanya adalah kondisi yang sebagian besar dapat dicegah melalui intervensi sederhana. Data ini bukan sekadar catatan administrasi Halodoc, ini adalah sinyal klinis yang seharusnya menjadi dasar setiap keputusan benefit kesehatan tenaga kerja di Indonesia," terangnya.

Terlebih lagi, laporan ini juga mengungkap efisiensi signifikan dari layanan telemedicine atau Digital Cashless Outpatient (DCO) Halodoc. Telemedicine menangani 24 persen dari seluruh kasus hanya dengan 8 persen dari total biaya kesehatan, dengan tingkat penyelesaian kasus di atas 95 persen tanpa kunjungan fisik lanjutan dalam 30 hari.

Pada pasien kronis, penggunaan DCO menghasilkan penghematan biaya hingga 66,4 persen dalam 90 hari dibandingkan pasien yang tidak menggunakan layanan digital.

Telemedicine bukan sekadar alternatif yang lebih murah. Jika dioptimalkan, hal ini tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga memastikan karyawan mendapat penanganan yang lebih cepat, relevan dengan kebutuhan, dan kembali produktif lebih cepat. 

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore