
Ilustrasi RS Kapal. (istimewa)
JawaPos.com-Rumah sakit kapal membutuhkan biaya operasional hingga Rp 36 miliar per tahun. Dengan anggaran itu, RS Kapal mampu melayani sekitar 48 ribu pasien di daerah terpencil dengan mayoritas kasus didominasi penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, dan kolesterol.
Meski demikian, akses layanan kesehatan belum sepenuhnya merata karena masih banyak pasien yang belum terlindungi BPJS Kesehatan.
Selama dua tahun terakhir, rumah sakit kapal dr. Lie Dharmawan II dan RSK Nusa Waluya II telah berkeliling ke wilayah-wilayah minim fasilitas layanan kesehatan. Dalam periode itu, sebanyak 14.220 pasien menerima manfaat medis di tujuh lokasi pelayanan. Sebanyak 43 persen di antaranya belum menjadi peserta aktif BPJS Kesehatan.
Kondisi ini menunjukkan masih perlunya strategi pemerataan akses agar Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) benar-benar mampu menjangkau seluruh masyarakat di pelosok.
Ketua Pengurus Yayasan Dokter Peduli Tutuk Utomo Nuradhy mengungkapkan, operasional empat armada rumah sakit kapal yang mereka kelola, yaitu tiga unit kapal pinisi dan satu kapal tongkang membutuhkan anggaran besar setiap tahun.
“Untuk tipe pinisi itu sekitar Rp 5 miliar. Jadi kalau tiga berarti Rp 15 miliar. Sedangkan satu rumah sakit kapal tongkang sekitar Rp 21 miliar. Jadi total sekitar Rp 36 miliar dalam satu tahun,” ujar Tutuk Utomo Nuradhy kepada wartawan, Selasa (25/11).
Dengan dukungan anggaran tersebut, rumah sakit kapal dapat melakukan pelayanan kesehatan hingga 48.000 pasien per tahun. Sumber pendanaan berasal dari klaim BPJS Kesehatan, dukungan korporasi seperti Pertamina International Shipping (PIS), donatur individu, dan dana hibah.
Namun, Tutuk menegaskan, kebutuhan terbesar saat ini ada pada layanan bedah. Sebab, membutuhkan biaya tinggi dan proses yang rumit bagi pasien di daerah terpencil.
“Pasien layanan bedah harus menempuh transportasi ke fasilitas rujukan, memobilisasi pendampingnya, dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi untuk wilayah-wilayah terpencil,” kata Tutuk.
Dia juga menyebut bahwa sebagian besar pasien yang ditangani dokter relawan saat ini merupakan penderita penyakit tidak menular, suatu tren kasus yang hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia.
Dengan tingginya kebutuhan layanan bedah dan masih rendahnya kepesertaan BPJS di daerah terpencil, pihaknya menilai upaya kerja sama multisektor perlu terus diperkuat agar layanan kesehatan yang berkualitas bisa diakses seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Lecce vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Imbang di Via del Mare

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022