
Ilustrasi nyamuk menggigit seseorang dan menularkan berbagai penyakit (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Kita mungkin sudah familiar dengan penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan chikungunya yang disebabkan oleh gigitan nyamuk, namun ternyata ada satu jenis penyakit lain yang juga ditularkan melalui gigitan nyamuk dan dampaknya juga bisa sangat mengerikan. Penyakit ini adalah filariasis limfatik atau yang lebih dikenal dengan sebutan penyakit kaki gajah, dimana kondisi ini menimbulkan dampak buruk bagi fisik dan psikologis bagi penderitanya.
Berbeda dengan DBD yang gejalanya muncul dalam hitungan hari, penyakit kaki gajah berkembang secara perlahan dan dapat menyebabkan perubahan fisik permanen yang mengubah kehidupan penderita selamanya.
Penyakit kaki gajah atau Filariasis limfatik merupakan kondisi medis yang ditandai dengan pembengkakan ekstrem pada bagian tubuh tertentu, terutama kaki dan tungkai. Pembengkakan ini terjadi akibat penumpukan cairan limfatik yang tidak dapat mengalir dengan normal karena kerusakan pada sistem limfatik tubuh.
Nama "kaki gajah" sendiri berasal dari penampilan kaki yang membengkak sangat besar dan kulit yang menebal, menyerupai kaki gajah. Kondisi ini merupakan manifestasi kronis dari infeksi parasit yang telah berlangsung lama dan tidak mendapat penanganan yang tepat.
Penyebab utama dari penyakit kaki gajah adalah infeksi parasit yang dikenal sebagai filariasis, yaitu infeksi oleh cacing gelang mikroskopis yang masuk ke tubuh melalui gigitan nyamuk. Cacing-cacing kecil ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, namun di bawah mikroskop tampak seperti benang-benang halus yang hidup di dalam sistem limfatik manusia.
Selain itu, Cleveland Clinic juga turut menjelaskan tentang beberapa jenis cacing filaria yang bisa menjadi penyebab utama atas penyakit ini, seperti:
Ketiga jenis cacing ini memiliki siklus hidup yang serupa dan semuanya ditularkan melalui gigitan nyamuk yang membawa larva parasit tersebut. Ketika nyamuk menggigit manusia, larva masuk ke dalam aliran darah dan kemudian bermigrasi ke sistem limfatik, tempat mereka tumbuh menjadi cacing dewasa. Cacing dewasa ini dapat hidup bertahun-tahun dalam tubuh manusia, terus berkembang biak dan merusak sistem limfatik secara progresif.
Gejala yang muncul pada penderita filariasis pun dapat bervariasi, dan sekitar 2 dari setiap 3 orang yang terinfeksi filariasis limfatik tidak mengalami gejala yang parah. Namun, infeksi filariasis biasanya menyebabkan sistem kekebalan tubuh melemah, yang membuat penderita lebih rentan terhadap infeksi lain. Beberapa gejala yang mungkin dialami oleh penderita meliputi:
Kondisi ini terjadi akibat sistem kekebalan tubuh yang bekerja secara berlebihan untuk melawan infeksi parasit. Peradangan dapat muncul di berbagai bagian tubuh yang terinfeksi, menyebabkan rasa tidak nyaman dan nyeri pada area yang terkena.
Penumpukan cairan dalam sistem limfatik menjadi salah satu gejala khas dari penyakit ini. Cairan limfatik yang seharusnya mengalir dengan lancar menjadi terhambat akibat kerusakan pembuluh limfa oleh cacing parasit. Pembengkakan yang terjadi dapat bersifat progresif dan semakin memburuk jika tidak ditangani dengan baik.
Khusus pada pria, infeksi ini dapat menyebabkan pembengkakan dan penumpukan cairan di area skrotum. Kondisi ini menimbulkan rasa tidak nyaman dan dapat memengaruhi fungsi reproduksi jika tidak mendapat penanganan medis yang tepat.
Pembengkakan dan penumpukan cairan dapat terjadi pada jaringan di seluruh tubuh, tidak hanya terbatas pada kaki. Edema ini membuat bagian tubuh yang terkena menjadi berat, sulit digerakkan, dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari penderita.
Tidak hanya itu, penyakit kaki gajah ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik. Seperti yang dilansir dari Hello Sehat, beberapa komplikasi ini mungkin saja terjadi pada penderita filariasis limfatik.
1. Kecacatan Permanen
Filariasis dapat mengakibatkan kecacatan yang bersifat permanen pada penderitanya, terutama pada bagian tubuh yang mengalami pembengkakan ekstrem. Pembengkakan yang terus-menerus dan tidak terkontrol dapat merusak jaringan dan struktur tubuh secara irreversible. Kecacatan ini tidak hanya memengaruhi penampilan fisik, tetapi juga sangat membatasi mobilitas dan kemampuan penderita untuk melakukan aktivitas normal. Kondisi ini pada akhirnya dapat menurunkan produktivitas dan kemandirian penderita dalam kehidupan sehari-hari.

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Tak Singgung Pengunduran Diri, Ini 6 Poin Pernyataan Jampidsus Febrie Adriansyah Usai Rumahnya Digeledah Polisi
Prediksi Skor Prancis vs Maroko: Bandar Taruhan Klaim Les Bleus Menang 90 Menit, Opta Beri Peluang Pasti 60,9 Persen
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
