
Ilustrasi seseorang yang hendak mengonsumsi antibiotik. (Freepik)
JawaPos.com - Antibiotik adalah jenis obat yang digunakan untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Obat ini bekerja dengan cara membunuh bakteri atau menghambat pertumbuhannya, sehingga tubuh dapat pulih dari infeksi.
Antibiotik tidak efektif untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti flu, pilek, atau COVID-19. Jenis antibiotik sangat beragam, masing-masing jenisnya memiliki cara kerja yang berbeda.
Terdapat jenis antibiotik yang bekerja dengan merusak dinding sel bakteri, menghambat pembentukan protein, atau mengganggu proses reproduksi bakteri. Namun, tahukah kamu jika melakukan kesalahan saat mengonsumsi antibiotik dapat menyebabkan seseorang mengalami resistensi antibiotik?
Penjelasan Mengenai Resistensi Antibiotik
Resistensi antibiotik merupakan kondisi ketika obat antibiotik tidak lagi mampu membunuh bakteri penyebab infeksi. Kondisi ini membuat bakteri terus berkembang dan sulit diatasi, sehingga meningkatkan risiko terjadinya komplikasi serius hingga kematian.
Resistensi antibiotik bisa disebabkan oleh beberapa kesalahan saat mengonsumsinya. Misalnya penggunaan yang tidak sesuai dosis, tidak dihabiskan sesuai resep dokter, atau digunakan untuk penyakit yang bukan akibat dari infeksi bakteri.
Gejala Resistensi Antibiotik
Secara umum, tanda terjadinya resistensi antibiotik adalah gejala penyakit yang tidak kunjung membaik, serta proses penyembuhan yang berlangsung lebih lama dari biasanya. Gejala resistensi antibiotik dapat berbeda-beda tergantung pada jenis bakteri penyebab infeksinya.
Pada sebagian penderita yang mengalaminya, kondisi ini dapat ditandai dengan gejala demam yang muncul berulang kali, diare yang berlangsung lebih dari tiga hari, batuk disertai sesak napas, serta mual dan muntah.
Pencegahan dari Resistensi Antibiotik
Dikutip dari KlikDokter, beberapa langkah dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya resistensi antibiotik. Pertama, selalu gunakan antibiotik sesuai anjuran dokter dan hindari memakai atau membagikan obat antibiotik milik orang lain, meskipun gejalanya tampak serupa.
Selain itu, jangan memaksa dokter untuk meresepkan antibiotik jika tidak diperlukan. Saat menjalani pengobatan, pastikan untuk mengonsumsi obat tepat waktu, misalnya dengan memasang alarm sebagai pengingat.
Hindari pula menyimpan sisa antibiotik untuk digunakan di lain waktu. Terakhir, cegahlah infeksi bakteri dengan menjaga kebersihan, seperti rutin mencuci tangan dan menghindari kontak langsung dengan orang yang sedang sakit.
Upaya Penanganan terhadap Resistensi Antibiotik
Pengobatan terhadap resistensi antibiotik dilakukan berdasarkan hasil uji sensitivitas antibiotik. Dikutip dari Alodokter, dokter biasanya akan meresepkan kombinasi dua atau lebih jenis antibiotik untuk membasmi bakteri penyebab infeksi.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
